FEM DEPOK — Konferensi Cabang (Konfercab) Pagar Nusa Kecamatan Cimanggis berlangsung khidmat dan penuh semangat kebersamaan. Forum tertinggi organisasi di tingkat kecamatan ini secara demokratis menetapkan Muhammad Afriqi sebagai Ketua Pagar Nusa Cimanggis untuk masa khidmat mendatang.
Konfercab digelar di Majelis Roudothus Salamah, Jalan Raya Bogor KM 30, Gang Roda, Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, pada Minggu (26/12/2025). Kegiatan tersebut dihadiri jajaran pengurus, pelatih, serta perwakilan anggota Pagar Nusa se-Kecamatan Cimanggis.
Muhammad Afriqi terpilih setelah meraih dukungan mayoritas peserta sidang. Proses pemilihan berlangsung tertib dan demokratis, mencerminkan tradisi musyawarah mufakat yang menjadi ciri khas organisasi pencak silat berbasis pesantren.
Dalam sambutannya, Afriqi menegaskan komitmennya untuk memperkuat konsolidasi organisasi, meningkatkan kualitas pembinaan atlet, serta menjaga marwah Pagar Nusa sebagai perguruan pencak silat yang berakar kuat pada tradisi Nahdlatul Ulama (NU).
“Ke depan, Pagar Nusa Cimanggis harus semakin solid, berprestasi, dan tetap menjunjung tinggi nilai akhlakul karimah,” tegas Afriqi.
Konfercab ini tidak hanya menjadi ajang pemilihan ketua, tetapi juga momentum evaluasi program kerja sebelumnya serta perumusan arah kebijakan organisasi ke depan. Para peserta berharap kepemimpinan baru mampu menggerakkan Pagar Nusa Cimanggis lebih aktif dalam pembinaan generasi muda serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Sementara itu, Siswadi, SH, MH, tokoh masyarakat Cimanggis sekaligus senior Perguruan Pencak Silat Pagar Nusa, menyambut positif terpilihnya ketua baru. Ia menilai kepemimpinan Muhammad Afriqi menjadi momentum penting untuk menguatkan kembali Pagar Nusa sebagai rumah besar pencak silat tradisional.
Menurut Siswadi, Pagar Nusa memiliki sejarah panjang yang tak terpisahkan dari kehidupan pesantren dan masyarakat akar rumput. Ia mengaku telah mengenal dan menekuni pencak silat sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah.
“Pagar Nusa berasal dari kelompok-kelompok pencak silat tradisional yang hidup di musala atau langgar. Dari situlah pencak silat diwariskan secara turun-temurun,” ujarnya.
Ia menjelaskan, berbagai aliran pencak silat yang sebelumnya berdiri sendiri kemudian dilebur dalam satu wadah bernama Pagar Nusa sekitar tahun 1986. Siswadi sendiri berasal dari aliran Buana Putih, yang turut melebur dalam pembentukan organisasi tersebut.
Lebih jauh, Siswadi menuturkan bahwa Pagar Nusa lahir dari rahim pesantren dan para kiai. Salah satu tokoh sentral pendiri Pagar Nusa adalah Gus Maksum dari Lirboyo, Kediri, bersama para kiai lainnya di wilayah Jawa Timur, khususnya di sekitar aliran Sungai Brantas.
“Gus Maksum, Kiai Syamsul Anam, dan para kiai di Kediri merupakan bagian penting dari sejarah lahirnya Pagar Nusa,” ungkapnya.
Pengacara yang dikenal aktif dalam kegiatan sosial itu pun menyatakan kesiapannya untuk terus berkontribusi dalam membesarkan Pagar Nusa, khususnya dalam menjaga dan mengembangkan pencak silat tradisional sebagai warisan budaya bangsa.
“Insya Allah saya siap ikut membantu, seolah roh perjuangan para pendiri itu hadir kembali, untuk membesarkan pencak silat tradisional di Indonesia,” pungkasnya.


Tinggalkan Balasan