FEM Indonesia, Jakarta — Lebaran selalu menghadirkan momen yang paling dinantikan, yakni berkumpul bersama keluarga di meja makan. Setelah melaksanakan Salat Idul Fitri dan berziarah, keluarga biasanya kembali ke rumah untuk menikmati hidangan khas Lebaran dalam suasana hangat penuh kebersamaan.
Tradisi makan bersama pada Hari Raya tidak sekadar menjadi aktivitas menikmati makanan. Lebih dari itu, momen ini menjadi ruang sosial yang mempertemukan anggota keluarga lintas generasi, sekaligus menghidupkan kembali kenangan yang jarang hadir dalam keseharian.
Ketua Omar Niode Foundation sekaligus editor buku Tradisi Makan Siang Indonesia: Khazanah Ragam dan Penyajiannya, Amanda Katili Niode, menilai makan bersama memiliki makna yang lebih luas dari sekadar aktivitas konsumsi.
“Makan bersama merupakan cerminan perilaku sosial, ekonomi, dan budaya sebuah masyarakat. Seiring waktu, kebiasaan ini berkembang dari sekadar kebutuhan nutrisi menjadi bagian dari identitas kuliner dan gaya hidup,” ujarnya.
Buku tersebut bahkan meraih penghargaan Best Book in the World dalam ajang Gourmand World Cookbook Awards, salah satu penghargaan bergengsi di bidang kuliner dunia.
Di berbagai rumah di Indonesia, meja makan Lebaran hampir selalu dipenuhi hidangan klasik seperti ketupat, opor ayam, sambal goreng ati, dan rendang. Ragam menu tersebut kerap dilengkapi dengan kuliner khas daerah, seperti Soto Banjar dari Kalimantan Selatan, Selat Solo dari Jawa Tengah, seruit dari Lampung, pallumara dari Sulawesi Selatan, hingga pindang patin dari Palembang.
Keberagaman hidangan ini mencerminkan kekayaan sistem pangan Nusantara yang berkembang dari pengetahuan masyarakat selama berabad-abad.
Peneliti kuliner sekaligus Direktur Yayasan Nusa Gastronomi Indonesia, Mei Batubara, menyebut teknik memasak tradisional Indonesia banyak memanfaatkan bahan alami.
“Rempah-rempah, santan, serta bahan segar lokal menjadi kekuatan utama kuliner Indonesia. Tradisi ini menunjukkan kekayaan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi,” jelasnya.
Lebih lanjut, Amanda Katili menekankan bahwa memilih bahan pangan lokal juga memiliki nilai keberlanjutan.
“Mengonsumsi makanan lokal dapat menjadi langkah yang lebih ramah lingkungan. Selain mengurangi jejak karbon dari distribusi jarak jauh, pilihan ini juga mendukung petani kecil, nelayan tradisional, serta produsen lokal,” katanya.
Di sejumlah daerah, tradisi makan bersama bahkan berkembang menjadi budaya khas, seperti nyeruit di Lampung dan ngidang di Palembang, yang menekankan nilai kebersamaan dan berbagi dalam satu meja.
Pada akhirnya, tradisi makan bersama saat Lebaran bukan hanya tentang hidangan yang tersaji. Lebih dari itu, momen ini menjadi cara sederhana untuk merawat hubungan keluarga, melestarikan tradisi, sekaligus menumbuhkan rasa syukur atas kebersamaan.


Tinggalkan Balasan