FEM Indonesia, Jakarta — Peringatan Hari Film Nasional (HFN) tahun ini tidak hanya dirayakan melalui karya di layar lebar, tetapi juga lewat gerakan komunitas yang konsisten membangun ekosistem perfilman dari akar rumput.
Salah satu yang menonjol adalah Komunitas Cinta Film Indonesia, yang terus menggaungkan semangat perfilman inklusif di Tanah Air.
Berawal dari diskusi sederhana dan kegiatan nonton bareng di Sinematek Indonesia yang berlokasi di Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, KCFI kini berkembang menjadi gerakan kultural yang melibatkan berbagai kalangan lintas profesi pecinta film Indonesia.
Komunitas ini diinisiasi oleh Budi Sumarno bersama sejumlah pegiat film seperti Adisurya Abdy, Berhard Uluan Sirait, Hendriono, dan Djuju Purwantoro. Dari ruang diskusi tersebut, lahir gagasan besar membangun ekosistem perfilman berbasis penonton cerdas dan sineas berdaya.
Sejak 2015, perjalanan KCFI mendapat dukungan dari Pusat Pengembangan Perfilman pada masa kepemimpinan Maman Widjaya. Dukungan berlanjut melalui peran Ahmad Mahendra serta Syaifullah Agam yang turut memfasilitasi berbagai kegiatan komunitas.
Sebagai ruang belajar terbuka, KCFI aktif menggelar pemutaran dan diskusi film, termasuk menghadirkan tokoh-tokoh perfilman. Salah satu momen penting adalah diskusi film “Noesa Penida” yang menghadirkan almarhum Ray Sahetapy, yang memperkaya perspektif apresiasi film secara kritis.
Diskusi lintas disiplin juga menjadi ciri khas KCFI. Dalam pemutaran film “Mars (Mimpi Ananda Raih Semesta)” karya Syahrur Gibran, KCFI menghadirkan psikolog Tika Bisono serta produser Rina Yanti Harahap. Sementara itu, sutradara Herwin Novianto juga turut berbagi perspektif kemanusiaan dalam perfilman.
Komitmen terhadap inklusivitas mulai diperkuat sejak 2018 melalui fasilitasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi lewat program diskusi dan Training of Trainers (ToT) perfilman inklusif. Langkah ini menjadi fondasi penting dalam mendorong keterlibatan penyandang disabilitas dalam industri film.
Memasuki 2026, upaya tersebut semakin konkret dengan penyusunan Buku Panduan Perfilman Inklusif yang difasilitasi Kementerian Kebudayaan. Proses ini melibatkan berbagai pihak seperti Institut Kesenian Jakarta, Badan Perfilman Indonesia, Karyawan Film dan Televisi Indonesia, serta Citra Film School.
Keterlibatan organisasi disabilitas juga menjadi sorotan, di antaranya Komisi Nasional Disabilitas yang diwakili Dante Rigmalia, Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia melalui Gufron Sakaril, serta Mimi Institute oleh Mimi Mariani Lusli.
Penyusunan buku ini dikoordinasikan oleh Suzen Tobing, dengan harapan menjadi panduan implementatif bagi pengembangan perfilman inklusif di Indonesia.
Dampaknya mulai terlihat. Sejumlah produser dan sutradara kini semakin terbuka melibatkan penyandang disabilitas, tidak hanya sebagai pemeran, tetapi juga bagian dari kru produksi.
Ekspansi KCFI juga terus berjalan. Pada 2025, komunitas ini telah hadir di Palembang, Sumatera Selatan, serta Jembrana, Bali Barat. Ke depan, KCFI menargetkan lahirnya lebih banyak komunitas film di berbagai daerah.
“Kami percaya komunitas adalah fondasi penting dalam membentuk penonton sekaligus melahirkan sineas baru dari daerah,” ujar Budi Sumarno.
Di momen Hari Film Nasional ini, KCFI menegaskan kembali bahwa film bukan sekadar hiburan, melainkan ruang perjumpaan gagasan, identitas, dan masa depan bangsa. “Majulah Film Indonesia dari komunitas, untuk perfilman Indonesia.”


Tinggalkan Balasan