Femindonesia.com, JAKARTA — Peran sebagai pelaku kekerasan terhadap anak menjadi salah satu pengalaman akting paling berat bagi Teuku Rifnu Wikana. Demi memerankan karakter Pemangsa dalam film Memburu Pemangsa, aktor tersebut bahkan mengaku harus berdoa terlebih dahulu sebelum menerima peran yang secara moral sangat bertolak belakang dengan dirinya.

Hal itu diungkapkan Teuku Rifnu saat menghadiri press conference film terbaru Sinemaku Pictures, Memburu Pemangsa, di XXI Epicentrum, Jakarta, Senin (21/9)..

Film bergenre crime-action-horor garapan sutradara Umay Shahab tersebut dibintangi Laura Basuki sebagai Agnes, Prilly Latuconsina sebagai Cia, Yasamin Jasem sebagai Anya, Taskya Namya sebagai Brina, Teuku Rifnu Wikana sebagai Pemangsa, Andri Mashadi sebagai Petra, serta Jordan Omar sebagai Pandu.

Mengusung kampanye #JagaAnakAnak, Memburu Pemangsa berangkat dari keresahan terhadap tingginya kasus kekerasan terhadap anak.

Bagi Teuku Rifnu, menerima peran sebagai Pemangsa bukan keputusan yang mudah.

“Pertama kali mendapatkan cerita ini, saya mau nangis. Kenapa saya harus menerima ini? Moralitas itu bertolak belakang dengan pribadi saya,” ujar Teuku Rifnu.

Ia bahkan menggambarkan karakter yang diperankannya sebagai sosok yang berada di luar batas kemanusiaan.

“Tidak mampu memainkan karakter ini dan saya tahu ini dosa banget. Ini ada manusia di atas iblis,” katanya.

Sebelum memutuskan menerima tawaran tersebut, Teuku Rifnu mengaku berdoa agar diberi izin memainkan karakter itu dengan tujuan yang lebih besar.

“Tolong izinkan saya memainkan karakter ini agar saya bisa memberikan contoh kepada masyarakat luar agar mereka bisa menjaga anaknya. Biar saya menjadi objek, tidak apa-apa,” tuturnya.

Beban karakter tersebut ternyata turut terbawa hingga ke luar lokasi syuting. Teuku Rifnu mengaku kerap menangis dan memaki dirinya sendiri setelah pulang dari proses produksi.

Tak hanya secara emosional, proses syuting juga membuatnya mengalami sejumlah cedera. Kepalanya sempat terkena botol, sementara bagian kakinya harus menjalani pemeriksaan MRI dan CT Scan.

“Setan aja kebakar. Binatang aja nggak seperti ini,” ujarnya.

Prilly Latuconsina Soroti Budaya Diam

Prilly Latuconsina yang memerankan Cia melihat persoalan kekerasan terhadap anak bukan hanya berkaitan dengan keberadaan pelaku, tetapi juga budaya diam yang masih ditemukan di sejumlah lingkungan.

“Bukan nggak ada media yang meliput, tapi ada budaya diam di beberapa lingkungan. Mungkin viral satu hari dua hari, tapi habis itu nggak ada penanganan yang tepat,” kata Prilly.

Dalam film tersebut, Cia merupakan seorang jurnalis yang harus menghadapi berbagai situasi fisik. Untuk mempersiapkan peran tersebut, Prilly menjalani latihan kardio dan conditioning tambahan.

Menurutnya, tantangan terbesar justru mempertahankan emosi karakter di tengah adegan fisik yang intens.

“Yang lebih susah itu menjaga kontinuitas emosi di tengah-tengah adegan fisik yang berat. Bahan bakar Cia itu takut keponakannya kenapa-napa,” ujarnya.

Laura Basuki: Kengerian Real karena Ruang Aman Hilang

Sementara itu, Laura Basuki menilai kekuatan horor dalam Memburu Pemangsa tidak hanya berasal dari adegan menegangkan, tetapi juga dari kenyataan yang menjadi latar keresahan film.

“Kengerian real itu pasti beda. Ngerinya adalah bagaimana kita ngerasa tidak mempunyai ruang aman,” kata Laura.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana film ini mencoba menghadirkan ketakutan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Taskya Namya: Brina Lebih Banyak “Lewat Tampolan”

Taskya Namya, pemeran Brina, mengungkapkan dirinya memiliki kemiripan dengan karakter Cia yang diperankan Prilly, terutama dalam hal karakter yang sama-sama emosional.

Namun, menurut Taskya, cara keduanya mengekspresikan emosi sangat berbeda.

“Karakter Brina dan Cia tuh lumayan mirip. Kami dua-duanya emosinya menggebu-gebu, cuma caranya sangat berbeda. Dia lewat mulut, aku lewat tampolan,” ujar Taskya.

Chemistry Jadi Kunci Tim Jurnalis

Andri Mashadi yang memerankan Petra, satu-satunya polisi di antara kelompok jurnalis dalam cerita, menyebut chemistry antarpemain menjadi bagian penting dalam membangun dinamika kelompok.

“Kita diskusi setiap hari, bukan cuma baca script tapi background karakter,” kata Andri.

Jordan Omar sebagai Pandu menambahkan, proses syuting yang banyak diisi adegan fighting justru memperkuat kedekatan para pemain.

“Dari sekian lama proses syuting, jadi pengalaman bonding yang kuat,” ujarnya.

Umay Shahab Bicara Sosok “Pemangsa”

Sutradara Umay Shahab mengatakan Memburu Pemangsa lahir dari keresahan terhadap kekerasan terhadap anak. Dalam pandangannya, sosok pelaku kekerasan terhadap anak digambarkan sebagai karakter yang bahkan melampaui gambaran tentang kejahatan itu sendiri.

“Lebih iblis daripada iblis, atau bahkan iblis saja minder sama mereka,” tegas Umay.

Umay juga menjelaskan penggunaan warna hijau dan hitam yang dominan dalam film. Warna hijau secara khusus digunakan untuk merepresentasikan racun yang dibawa karakter Pemangsa.

“Warna hijau itu ngegambarin beracun, dari karakter Pemangsa ini memang dia bisa menyebarkan racun,” jelasnya.

Inspirasi visual tersebut, kata Umay, juga berkaitan dengan sebuah video tentang kursi goyang putih bersih milik anak kecil yang pernah membuatnya merasa takut ketika masih kecil.

Dalam proses produksinya, Umay memastikan aspek perlindungan terhadap aktor anak mendapat perhatian khusus. Treatment untuk aktor anak dibuat dengan standar yang ketat dan telah melalui proses approval Komnas PA serta psikolog, mulai dari tahap skenario hingga pascaproduksi.

“Kita nggak mau ada yang kelolosan sedikit pun,” pungkas Umay.