FEM Indonesia, Depok – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Pemkot Depok melakukan kunjungan silahturahmi ke kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Depok, Kamis (12/01/2022).
Kepala DP3AP2KB Pemkot Depok, Nessi Annisa Handari beserta jajarannya diterima langsung Ketua PWI Kota Depok, Rusdy Nurdiansyah dan puluhan awak media anggota PWI Kota Depok.
Pada kesempatan tersebut, Ketua PWI Kota Depok, menjelaskan peran dan fungsi PWI Kota Depok serta UU Pers No 40 Tahun 1999. Rusdy juga mengapresiasi kinerja DP3AP2KB Pemkot Depok yang cukup berprestasi dan itu terlihat dari keberhasilan menjadikan Kota Depok meriah Kota Layak Anak (KLA) Nindya kelima kalinya secara berturut-turut.
Kepala DP3AP2KB Pemkot Depok, Nessi Annisa Handari memaparkan kinerja dan juga memaparkan program dari dinas yang dipimpinnya. Bahwa sepanjang tahun 2022, kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan di Kota Depok mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Dengan perinciannya, sebanyak 138 kasus kekerasan terhadap anak dan 119 kekerasan terhadap perempuan dilaporkan masyarakat ke Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA).Pemkot Depok.
“Periode Januari hingga Desember 2021, jumlah kekerasan yang menimpa anak dan perempuan di Kota Depok tercatat sebanyak 107 dan 99 kasus.Kemudian, untuk tahun 2022 (kasus kekerasan terhadap anak), itu ada sebanyak 138 kasus. Tahun sebelumnya (2021) ada 107 kasus,” ungkap Nessi.
Kendati, mengalami peningkatan kasus lantaran semakin banyaknya masyarakat yang sudah berani melapor, namun berbagai upaya terus dilakukan DP3AP2KB Pemkot Depok untuk terus menekan angka kekerasan terhadap anak dan perempuan di wilayah Kota Depok. Selain itu, pihaknya berusaha terus menyelenggarakan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat melalui program Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga), Sekolah Ayah dan Bunda, program Sekolah Pra Nikah dan program RW Ramah Anak.
Nessi juga menyoroti maraknya anak anak bermain permainan lato lato. Katanya, bermain dua bola kecil itu ternyata ada dampak positifnya. Hal itu dikarenakan dapat menghindari anak dari kecanduan gadget.
“Jadi dia bisa mengalihkan waktunya, dari tadinya bermain gadget menjadi beralih kepada permainan tradisional atau permainan lainnya. Namun orang tua juga harus memberi perhatian khusus agar anak bermain dengan alat permainan yang aman. Jika hal itu sudah memenuhi standar dan dianggap aman mungkin tidak masalah,” ucap Nessi.
Menurut Nessi, yang menjadi masalah ketika alat permainan anak tersebut tidak dipastikan dengan aman maka hal itu lah yang dapat mencelakakan anak.
“Jika lato lato dianggap berbahaya maka orang tua bisa memberikan permainan lain yang lebih aman untuk anak. Karena semua mainan untuk anak itu selain harus cara bermainnya yang aman, alat yang diberikan juga harus aman. Dan bermain lato-lato lebih baik dari pada anak kecanduan gadget,” pungkas Nessi.



Tinggalkan Balasan