FEM Indonesia, Jakarta — Sutradara Chiska Doppert kembali menyapa penonton layar lebar lewat film terbarunya bertajuk Waru, yang dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 12 Februari 2026.
Film ini hadir menjelang bulan puasa dengan menawarkan pendekatan horor psikologis yang dipadukan dengan drama serta pesan moral yang kuat.
Diproduksi Aglow Pictures bekerja sama dengan Suraya Filem dan Film Q Indonesia, Waru diproduseri oleh Aji Fauzi dengan skenario yang ditulis Ery Sofid. Film ini diadaptasi dari novel karya sang produser yang kemudian dikembangkan ulang agar lebih relevan secara sinematik.
“Novel ini sebenarnya punya ide yang bagus, tapi ketika dibawa ke film, saya merasa perlu dikembangkan lagi. Kita harus kembali ke akarnya, memperkuat sebab-akibat ceritanya, dan membuat horornya bukan sekadar menakut-nakuti,” ujar Chiska Doppert di gala premiere film Waru di Epicentrum XXI, Jakarta, Jumat (6/2/2026).
Film menjadi karya layar lebar ke-29 Chiska yang tayang di bioskop sekaligus film ke-27 yang ia sutradarai sepanjang kariernya. Dikenal lewat film horor dengan elemen klasik, kali ini ia menghadirkan tantangan berbeda melalui simbol pohon waru yang dijadikan elemen utama cerita.
“Biasanya saya mainnya pocong-pocongan, tapi di Waru ini beda. Pohon waru tidak hanya dijadikan media, tapi dibuat seolah ‘hidup’, punya dimensi psikis. Itu tantangan tersendiri buat saya,” ungkapnya.
Menurut Chiska, unsur horor dalam film ini dibangun melalui konflik batin, trauma, dan konsekuensi dari tindakan para karakter, bukan sekadar kejutan menakutkan.“Di sini hantu itu bukan cuma hadir buat menakut-nakuti. Semua ada sebab-akibatnya. Bahkan ada plot twist besar di bagian akhir cerita yang baru terbuka kalau penonton menonton sampai selesai,” jelasnya.
Drama Kuat dan Cerita Tak Terduga
Selain mengusung horor psikologis, Waru menampilkan drama emosional dengan alur yang sulit ditebak. Unsur moral menjadi fondasi utama pengembangan cerita. “Unpredictable. Jadi penonton jangan setengah-setengah nontonnya. Harus sampai akhir biar tahu kebenaran ceritanya,” kata Chiska.
Pengambilan gambar dilakukan di sejumlah daerah di Indonesia, termasuk Bogor, Sukabumi, Solo, Tawangmangu, dan Boyolali, yang memperkuat atmosfer mistis sekaligus dramatis dalam film.
Film ini dibintangi jajaran aktor muda seperti Bella Graceva, Zikri Daulay, Jinan Safa, Dewi Amanda, Josiah Hogan, Sharifah Husna, Sean Mikail, serta Yatti Surachman dan lainnya. Chiska sengaja memberi ruang bagi wajah-wajah baru yang sebelumnya dikenal lewat FTV dan layar kaca.
“Saya senang kasih warna baru buat penonton. Mereka ini sebenarnya sudah punya fans sendiri, hanya saja jarang tampil di layar lebar. Semua pemain juga tetap melalui workshop akting yang cukup intens,” ujarnya.
Proses Panjang Menuju Rilis
Meski produksi rampung sejak 2025, film ini baru dirilis pada 2026 setelah melalui proses pascaproduksi yang cukup panjang. “Kami sempat melakukan online editing dua kali karena ada kendala di post-production. Tapi semua itu bagian dari proses. Strategi rilis sepenuhnya ada di tangan produser,” katanya.
Chiska berharap Waru dapat menghadirkan warna baru bagi perfilman horor Indonesia sekaligus menjadi tontonan yang bukan hanya menyeramkan, tetapi juga sarat makna.
“Semoga film ini bisa jadi tontonan yang bukan cuma seram, tapi juga punya cerita dan makna,” pungkasnya.


Tinggalkan Balasan