FEM Indonesia, Jakarta — Kisah horor yang hidup dalam kepercayaan masyarakat Belitung kini siap menghantui layar lebar. Makhluk mistis bernama Penebok, yang dipercaya warga sebagai sosok pencabut kepala korban untuk dijadikan tumbal, diangkat menjadi film berjudul The Bell: Panggilan untuk Mati.
Dalam cerita yang berkembang secara turun-temurun, sebagian warga meyakini bahwa kemunculan Penebok berkaitan dengan lepasnya makhluk tersebut dari sebuah perangkap gaib.
Sosok ini digambarkan sebagai entitas mengerikan yang datang secara tiba-tiba, mengincar korban, dan meninggalkan teror mendalam di tengah masyarakat.
Rumah produksi Sinemata Buana Kreasindo mengadaptasi legenda urban tersebut menjadi karya sinematik yang memadukan unsur mitos lokal dan horor modern. Film ini tidak hanya mengeksplorasi sosok Penebok, tetapi juga mengangkat simbol penting dalam kepercayaan masyarakat setempat, yakni lonceng keramat.
Judul The Bell sendiri merujuk pada lonceng yang diyakini dimiliki para dukun kampung di Belitung. Dalam kepercayaan tersebut, lonceng digunakan sebagai medium untuk mengurung makhluk halus seperti setan, arwah penasaran, hingga sosok Penebok.
Lebih dari sekadar benda mistis, lonceng ini juga memiliki makna simbolik. Selain menjadi alat pengendali dunia gaib, The Bell disebut-sebut sebagai representasi dari “Belitung” itu sendiri—tempat di mana kisah Penebok terus hidup di antara batas mitos dan realita, diceritakan dari generasi ke generasi.
Melalui film ini, penonton diajak menyelami kengerian yang berakar dari kearifan lokal, sekaligus mempertanyakan: apakah Penebok sekadar legenda, atau benar-benar pernah ada?


Tinggalkan Balasan