FEM Indonesia, Yogyakarta – Yogyakarta Art Book Fair (YKABF) 2026 resmi memulai rangkaian pra-acara bertajuk Road to YKABF 2026 pada Sabtu, 11 April 2026. Kegiatan ini digelar di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK), Universitas Gadjah Mada, dan terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya.
Peluncuran pra-acara ini menjadi langkah awal menuju penyelenggaraan utama YKABF 2026, sekaligus upaya memperluas keterlibatan dengan komunitas akademik dan pelaku kreatif, khususnya generasi muda.
Sebagai salah satu platform penting dalam ekosistem penerbitan independen di Indonesia, YKABF tak hanya berfungsi sebagai pameran buku seni. Lebih dari itu, ajang ini menjadi ruang temu lintas disiplin yang mempertemukan seniman, penerbit, desainer, hingga pelaku kreatif dari berbagai latar belakang.
Melalui semangat eksperimentasi dan aksesibilitas, YKABF mendorong artbook dan zine sebagai medium alternatif dalam produksi pengetahuan yang lebih personal, berbasis proses, dan eksploratif.
Fair Director YKABF 2026, Syafiatudina, menjelaskan bahwa Road to YKABFdirancang sebagai pintu masuk bagi audiens baru untuk mengenal dunia penerbitan independen.
“Ini adalah titik awal agar publik bisa memahami semangat penerbitan independen dengan cara yang lebih terbuka dan mudah diakses. Kami ingin membangun keterlibatan sejak awal, bukan sekadar menciptakan antisipasi,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan dalam pra-acara ini mencakup berbagai program kurasi seperti showcase, diskusi, hingga eksplorasi kreatif. Program-program tersebut membuka ruang dialog antara praktik artistik dan wacana akademik dalam konteks penerbitan alternatif.
Pegiat literasi sekaligus praktisi budaya, Tarlen Handayani, menilai penerbitan independen memiliki peran penting dalam menghadirkan perspektif yang lebih beragam.
“Penerbitan independen membuka ruang bagi distribusi pengetahuan di luar struktur konvensional. Dari sana lahir suara-suara yang lebih personal, kritis, dan beragam,” ungkapnya.
Sementara itu, peneliti sekaligus penerbit Petrikor Books, Daud Sihombing, menekankan bahwa artbook kini menjadi bagian penting dari praktik budaya visual kontemporer.
“Artbook bukan sekadar wadah konten, tetapi juga bentuk ekspresi itu sendiri—berada di persimpangan antara desain, narasi, dan eksplorasi material,” jelasnya.
Melalui Road to YKABF 2026, penyelenggara berharap dapat membuka koneksi baru sekaligus meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya penerbitan independen.
Adapun YKABF 2026 akan digelar pada 8–10 Mei 2026 di Langgeng Art Space, Yogyakarta. Acara utama ini akan menghadirkan 43 exhibitor terkurasi dari dalam dan luar negeri, serta beragam program seperti pameran, peluncuran buku, diskusi, workshop, hingga pertunjukan.
Dengan rangkaian kegiatan yang semakin beragam, YKABF 2026 diharapkan mampu menghadirkan pengalaman yang lebih imersif sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam jaringan global art book fair dan penerbitan independen.


Tinggalkan Balasan