FEM Indonesia, Jakarta – Sejumlah pekerja seni, khususnya pelaku musik dangdut dari Jawa Timur dan Jakarta, menyoroti persoalan kesejahteraan dan perlindungan hak ekonomi yang dinilai masih belum berpihak kepada para seniman.
Mereka menilai profesi pekerja seni hingga kini masih kerap dipandang sebelah mata, sehingga berdampak pada taraf hidup para pelaku industri hiburan.
Dalam pernyataan yang beredar, para seniman dangdut yanh dipelopori personil Wong Telu, Rosa Amelia, Nunung Kharisma, Rachma Julia, Joe Thander dan Pekerja Artis Musik Dangdut Indonesia (PAMDI) Malang Jawa Timur serta pengusaha Eny Wijaya bersama sama menyebut bahwa kontribusi genre musik dangdut sangat besar di tengah masyarakat.
Dangdut dinilai mampu menjangkau pendengar lintas kalangan dan memiliki basis penggemar luas di berbagai daerah, ungkapnya.
Namun demikian, mereka menilai masih terdapat persoalan diskriminasi, intimidasi, hingga kurangnya penghargaan terhadap hak-hak pekerja seni, terutama terkait hak royalti. Para pelaku seni mempertanyakan kejelasan distribusi royalti yang seharusnya menjadi hak para pencipta, penyanyi, maupun pihak terkait dalam industri musik.
Menurut mereka, berbagai upaya telah dilakukan oleh para senior dan tokoh musik dangdut untuk memperjuangkan aspirasi tersebut, namun hingga kini belum memberikan kepastian yang diharapkan.
Atas dasar itu, sejumlah seniman menyatakan akan membangun gerakan kepedulian secara mandiri. Gerakan tersebut disebut berfokus pada solidaritas antar seniman, saling membantu, serta menghadirkan kegiatan nyata melalui penyelenggaraan sebuah acara sebagai bentuk dukungan terhadap sesama pelaku seni dangdut.
“Kami seniman Dangdut berharap langkah kecil yang dilakukan dapat menjadi awal perubahan positif bagi kesejahteraan pekerja seni dan mendorong perhatian lebih besar terhadap hak-hak seniman di Indonesia,” kata Rachma Julia.


Tinggalkan Balasan