FEM Indonesia, JAKARTA – Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) berkolaborasi dengan para seniman dari Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI), Himpunan Pelukis Jakarta (Hipta), dan Asosiasi Pelukis Nusantara (Aspen) menggelar Seminar Nasional dan Pameran Lukisan bertajuk Revitalisasi Keraton Nusantara.
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Kantor Pusat Berita Antara, Jakarta Pusat, Jumat (24/4/2026), menjadi ruang diskusi penting mengenai pelestarian budaya sekaligus pengembangan potensi ekonomi kreatif berbasis warisan leluhur.
Acara dibuka oleh Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, yang menegaskan bahwa kekayaan sejarah, cerita rakyat, dan kearifan lokal dari keraton maupun kerajaan di Nusantara dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru apabila dikembangkan melalui inovasi, teknologi, dan kreativitas.

Menurut Riefky, akar budaya yang kuat perlu dihilirisasikan dalam bentuk produk kreatif yang relevan dengan era digital sehingga mampu menghasilkan nilai ekonomi berkelanjutan.
Ia mencontohkan banyak negara dengan fondasi budaya kuat berhasil membangun industri kreatif melalui pengemasan sejarah dan tradisi menjadi film, fesyen, kuliner, hingga gim digital “Cerita adalah tambang baru. Indonesia memiliki 514 kabupaten dengan kekayaan kisah yang tidak akan habis. Dari cerita bisa lahir komik, film, animasi, cinderamata, hingga gim,” ujarnya.
Riefky menilai revitalisasi keraton tidak hanya penting untuk menjaga identitas budaya bangsa, tetapi juga membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan daerah, dan mendorong perputaran ekonomi masyarakat sekitar kawasan keraton.

Karena itu, Kementerian Ekonomi Kreatif menyatakan siap memperkuat kolaborasi dengan FSKN melalui pendekatan hexahelix yang melibatkan komunitas, akademisi, pemerintah, media, serta lembaga keuangan. Menurut dia, dukungan terhadap keraton Nusantara bukan semata bantuan dana, melainkan investasi budaya yang memiliki efek berganda terhadap ekonomi daerah.
Melalui seminar dan pameran lukisan ini, FSKN berharap warisan budaya Nusantara dapat terus hidup, berkembang, dan bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi yang relevan dengan kebutuhan zaman, sekaligus memberi manfaat sosial bagi masyarakat luas.

Sebanyak 44 seniman yang terlibat dalam pameran ini, di antaranya Yahya TS, Deden Hamdani, Susi Necklin, Pustanto, Yogi Wistyo, Glen Nender, Cheyanne Smith, D.Koestrita, Chryshnanda Dwilaksana, Mas Wit, Ni Made Sri Andani, dan Sarnadi Adam. Selain itu, ada Dudin Wangsa, Shamady Nura, Helena Muljanto, Aryo Bimo, Yunti Ars, dan Nadia Iskandar.


Tinggalkan Balasan