FEM Indonesia, JAKARTA – Anggota DPR RI dan Ketua MPR RI ke-15, Bambang Soesatyo, menyatakan dukungannya terhadap para sineas Indonesia untuk menghadirkan karya film berbasis budaya lokal sebagai upaya memperkuat identitas bangsa sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif nasional.
Menurut Bamsoet, film memiliki kekuatan besar sebagai medium pelestarian budaya yang tidak hanya mendokumentasikan tradisi, tetapi juga mampu memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat luas.
“Medium ini tidak hanya mendokumentasikan tradisi, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas,” ujar Bamsoet saat menerima kunjungan sejumlah sineas di Rumah Pergerakan, Jalan Patiunus, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (18/5/2026).
Pertemuan tersebut dihadiri para sineas dari Humaniora Rumah Film, di antaranya Eddie Karsito, Gamal Putra, Ali Amran, dan Tri Setiowati, didampingi Yogi Soepaat. Agenda tersebut menjadi ruang supervisi, sinergi, serta jembatan kolaborasi antara tokoh publik dan insan perfilman dalam penguatan ekosistem seni berbasis budaya.
Film Berbasis Budaya Dinilai Relevan di Tengah Tekanan Ekonomi
Dalam kesempatan itu, Bamsoet juga menyoroti kondisi perekonomian nasional yang sedang menghadapi tekanan akibat perlambatan global, tingginya tensi geopolitik, dan ketidakpastian ekonomi dunia.
Ia menilai sektor ekonomi kreatif, termasuk perfilman, dapat menjadi salah satu instrumen penting untuk menciptakan nilai tambah dan menjaga daya tahan ekonomi nasional.
“Perekonomian nasional sedang dalam fase tekanan ditandai dengan berbagai indikator. Perlu langkah adaptif untuk menjaga resiliensi serta menciptakan nilai tambah di tengah berbagai tantangan,” tegasnya.
Sineas Soroti Film Nasional yang Dinilai Kehilangan Akar Budaya
Pada kesempatan yang sama, Eddie Karsito menyampaikan pentingnya dukungan terhadap produksi film berbasis budaya sebagai langkah strategis menjaga karakter dan identitas bangsa di tengah dominasi budaya populer global.
Menurutnya, perfilman Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan besar berupa minimnya eksplorasi gagasan kultural dalam cerita film.
“Sangatlah dipahami jika sampai saat ini inferioritas masih mendominasi sebagian masyarakat Indonesia. Sehingga apa pun nilai budaya yang berasal dari Barat kerap dianggap lebih indah, lebih menarik, dan lebih modern dibanding budaya Timur,” ujar Eddie.
Ia menilai kondisi tersebut berdampak pada lahirnya karya sinema yang kurang merepresentasikan kekayaan budaya Nusantara secara esensial. Dominasi budaya populer asing, lanjutnya, secara perlahan memengaruhi cara pandang hingga konstruksi cerita dalam industri perfilman nasional.
“Lewat fashion, dance, lagu-lagu, musik, dan artisnya. Semua terdominasi lewat cerita film yang dikemas dalam bentuk industri budaya pop. Akibatnya cerita film Indonesia miskin gagasan kulturalnya,” katanya.
Sebagai sineas dan budayawan, Eddie mengaku konsisten memproduksi tayangan bernuansa lokal dan kenusantaraan. Ia pun tengah mempersiapkan produksi film berbasis kebudayaan yang akan segera diumumkan, termasuk tema dan judulnya.
Menurut Eddie, dukungan dari tokoh nasional, pemerintah, hingga masyarakat menjadi faktor penting agar film bernilai budaya memiliki ruang hidup yang lebih luas, diproduksi secara masif, serta memperoleh porsi layar yang layak.
Serahkan Buku Menjadi Bintang
Dalam pertemuan tersebut, Eddie juga menyerahkan buku karyanya berjudul Menjadi Bintang: Kiat Sukses Jadi Artis Panggung, Film, dan Televisi kepada Bambang Soesatyo.
Buku tersebut dikenal sebagai salah satu referensi praktis mengenai industri hiburan Indonesia, mulai dari seni peran, manajemen produksi, strategi casting, hingga pemetaan industri perfilman dan televisi.
Ditulis berdasarkan pengalaman lintas profesi sebagai aktor, pekerja teater, penulis cerita film, hingga jurnalis, buku itu juga mendapat apresiasi dari sejumlah pelaku industri hiburan seperti Rudi Soedjarwo, Jenny Rachman, Agus Ringgo, Manoj Punjabi, serta Chand Parwez Servia.
Mereka menilai buku tersebut dapat menjadi panduan penting bagi generasi baru yang ingin meniti karier secara serius di industri perfilman dan pertelevisian Indonesia.


Tinggalkan Balasan