FEM Indonesia, Bogor – Kehadiran dandang tradisional atau di Jawa Barat dikenal dengan sebutan seeng di ujung tanduk “kepunahan”. Pasalnya perajin dandang ini mulai dapat dihitung dengan jari, seperti di Kampung Nagrog, Desa Ciadek, Cigombong, Bogor. Padahal beberapa tahun lalu, warga kampung tersebut pernah kebanjiran pesanan alat memasak nasi di atas tungku ini.

Salah satu perajin, Dede, mengatakan ada sejumlah faktor yang membuat dandang atau seeng semakin terpinggirkan, diantaranya kurangnya bahan baku pembuatan dandang, pemasaran dan tidak ada generasi penerus.

“Ada kekhawatiran akan punah karena di sini sudah tidak banyak bengkel. Mungkin saya generasi terakhir,” ujar Dede, di sela pembuatan dandang dengan bahan plat aluminium tebal di bengkelnya.

Diakui, kendati usaha pembuatan dandang di Kampung Nagrog turun temurun namun keterampilan tersebut tidak mau diarahkan kepada anak- anak mereka. Dede beralasan tetap bertahan menjadi perajin karena keterbatasan pilihan pekerjaan lain.

“Dari kecil sudah belajar, karena orang tua juga kerja seperti ini. Tetapi anak-anak tidak saya arahkan ke sini, lebih baik sekolah saja. Enggak ada usaha lain. Enggak ada kerjaan, cuma itu,” kata laki-laki berusia setengah abad ini.

Selain itu, Dede menambahkan bahwa pembuatan dandang dilakukan secara manual, semisal ukuran diamater bagian atas, tengah dan bawah seeng. Pun dengan alat khusus buatan tangan atau disebut tampel, yang terbuat dari sisa rel kereta api atau komponen kendaraan. Hal ini menjadi tantangan sendiri bagi  perajin seeng, selain bahan baku yang harganya terus mengalami kenaikan.

“Alatnya bikin sendiri, tidak ada di toko. Dari bahan mobil, seperti as. Ada juga dari rel kereta. Dulu bahan baku murah, satu dandang bisa beli lebih dari dua kilo bahan. Sekarang satu dandang cuma cukup beli satu kilo bahan. Malah sekarang bahan baku utama berupa plat besi diperoleh dari pengepul atau lapak barang bekas di berbagai daerah seperti Ciampea, Parung hingga Bogor. Satu lembar sekitar empat kilo, harganya sekitar Rp 200 ribu. Untuk bikin dandang butuh tiga bahan, total sekitar 12 kilo, bisa jadi 12 biji,” urainya.

Diperoleh keterangan, dari 235 kepala keluarga di Kampung Nagrog, yang masih menekuni usaha membuat dandang tradisional hanya 12 orang dan hanya 7 perajin yang masih aktif dari 12 orang tersebut. [foto/teks: denim]