Femindonesia.com, Depok – Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) mendorong para ibu dan keluarga mempersiapkan proses menyusui sejak masa kehamilan. Persiapan secara fisik dan mental dinilai penting agar ibu lebih siap menghadapi berbagai tantangan selama memberikan Air Susu Ibu (ASI).
Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan Seminar Awam Bicara Sehat RSUI yang digelar dalam rangka memperingati Pekan ASI Sedunia di Lingkar Tengah, Gedung Entrance RSUI, Depok, Sabtu (8/8/2026).
Seminar menghadirkan dokter laktasi RSUI, dr. Mala Azitha, CBS dan dr. Rakhmi Sukmadewanti, dengan moderator Bidan Ranum Muntazia. Kegiatan tersebut membahas berbagai aspek penting dalam proses menyusui, mulai dari persiapan kehamilan, Inisiasi Menyusu Dini (IMD), kolostrum, hingga berbagai kendala yang kerap dialami ibu menyusui.
Menyusui Perlu Dipersiapkan Sejak Hamil
Dalam sesi edukasi, dr. Mala menjelaskan bahwa menyusui dapat dipandang sebagai sebuah investasi kesehatan yang perlu dipersiapkan sejak masa kehamilan.
Menurutnya, persiapan tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga kesiapan mental ibu. Dengan persiapan yang memadai, ibu diharapkan memiliki bekal yang lebih baik ketika memasuki masa menyusui setelah persalinan.
Salah satu fase penting dalam proses awal menyusui adalah satu jam pertama setelah bayi lahir. Pada periode tersebut, ibu dan bayi dianjurkan mendapatkan kesempatan untuk melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD).
IMD dilakukan dengan meletakkan bayi di dada atau perut ibu segera setelah lahir dan memberikan kesempatan kepada bayi untuk mencari puting secara alami.
IMD memiliki sejumlah manfaat, antara lain membantu merangsang produksi ASI, membantu menjaga suhu tubuh bayi, memperkuat ikatan antara ibu dan bayi, serta mendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif.
Kenali Kolostrum dan Peran Oksitosin
Materi seminar juga mengajak ibu memahami kolostrum, yakni ASI pertama yang keluar pada hari-hari awal setelah persalinan.
Kolostrum umumnya memiliki warna kekuningan, tekstur lebih kental, dan keluar dalam jumlah yang relatif sedikit. Meski demikian, kondisi tersebut sesuai dengan kebutuhan bayi pada masa awal kehidupannya.
Kolostrum juga mengandung antibodi dan berbagai faktor imun yang berperan dalam membantu memberikan perlindungan bagi bayi.
Selain kolostrum, proses menyusui juga berkaitan dengan peran hormon oksitosin. Hormon yang sering disebut sebagai “hormon cinta” tersebut berperan dalam proses pengeluaran ASI melalui let-down reflex.
Oksitosin juga dapat membantu ibu merasa lebih rileks dan berperan dalam memperkuat ikatan antara ibu dan bayi.
Jangan Menyerah Saat Menghadapi Kendala Menyusui
Sementara itu, dr. Rakhmi mengajak ibu dan keluarga memahami bahwa berbagai kendala dalam proses menyusui merupakan hal yang dapat terjadi.
Beberapa kondisi yang mungkin dialami antara lain kelelahan, kekhawatiran ASI tidak cukup, bayi yang sering menyusu, bayi rewel, payudara bengkak, hingga puting mengalami lecet.
Kondisi tersebut, kata dia, tidak serta-merta menjadi alasan untuk menghentikan pemberian ASI.
Ibu yang menghadapi kesulitan menyusui juga tidak perlu menghadapinya seorang diri. Dukungan dari pasangan dan keluarga, kader kesehatan, maupun tenaga kesehatan dapat membantu ibu memperoleh informasi dan pendampingan sesuai kebutuhan.
RSUI mengingatkan ibu untuk tidak merasa gagal ketika menghadapi tantangan dalam proses menyusui. Sebaliknya, ibu dianjurkan mencari informasi yang tepat dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sedini mungkin apabila mengalami kendala.
Melalui kegiatan Bicara Sehat dalam rangka Pekan ASI Sedunia, RSUI juga menegaskan komitmennya untuk terus memberikan edukasi kesehatan yang mudah dipahami masyarakat.
Sebagai rumah sakit pendidikan, RSUI berupaya mendukung terciptanya lingkungan yang ramah dan suportif bagi ibu dan bayi, termasuk melalui peningkatan pemahaman keluarga mengenai pentingnya dukungan selama perjalanan menyusui.
Edukasi mengenai menyusui diharapkan tidak hanya menjadi pengetahuan bagi ibu, tetapi juga dipahami oleh keluarga dan lingkungan sekitar. Dengan dukungan yang tepat, ibu diharapkan dapat menjalani proses menyusui dengan lebih percaya diri dan mampu memberikan ASI secara optimal.


Tinggalkan Balasan