Femindonesia.com, JAKARTA — Semangat memperingati kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini dirayakan melalui berbagai kegiatan kreatif dalam Kreatif Merdeka Carnival 2026. Berlangsung di PFN Heritage, Jakarta Timur, pada 9 Agustus hingga 6 September 2026, kegiatan tersebut memadukan hiburan, seni, budaya, UMKM, kompetisi, musik, hingga diskusi perfilman.

Salah satu agenda yang menjadi perhatian adalah Pekan Diskusi Film Indonesia, yang mempertemukan pelaku industri perfilman dengan pelajar dan generasi muda. Forum ini membahas perkembangan film anak Indonesia sekaligus memperkenalkan ekosistem industri film kepada calon generasi kreatif.

Pada hari pertama, digelar Diskusi Film Anak Indonesia digelar di PFN Heritage, Senin (10/8/2026), dengan menghadirkan sutradara Pelangi di Mars Upie Guava, Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia (BPI) Fauzan Zidni, sutradara sekaligus pemilik Sanggar Ananda Aditya Gumay, serta Ketua Umum KFT Indonesia Indrayanto Kurniawan. Diskusi dipandu moderator Mario Tetelepta.


Dalam diskusi tersebut, Aditya Gumay menyoroti perubahan kebiasaan anak-anak dalam mengonsumsi hiburan. Kehadiran YouTube, gim, dan media sosial membuat perhatian anak terhadap produk film lokal, termasuk film anak Indonesia, menghadapi tantangan.

Menurut Aditya, industri film anak perlu meningkatkan kualitas agar mampu bersaing dengan berbagai konten digital yang kini mudah diakses anak-anak. “Bagaimana supaya produk film anak Indonesia bisa lebih berdaya saing, tentu kualitasnya harus ditingkatkan. Kalau di dalam film itu minimal ada dua. Satu adalah storytelling. Yang kedua teknologi,” ujar Aditya.

Ia menilai kualitas cerita harus terus diperbarui, sementara teknologi produksi film juga perlu mengikuti perkembangan zaman. “Kalau dari sisi storytelling harus ter-upgrade, dari sisi teknologi harus ter-update. Karena film itu tidak terlepas daripada teknologi,” lanjutnya.


Karakter Lama Tak Harus Ditinggalkan

Aditya juga menyinggung keberadaan karakter-karakter yang telah dikenal masyarakat Indonesia. Menurut dia, karakter lama dalam cerita anak tidak harus ditinggalkan hanya karena perkembangan zaman. Ia mencontohkan Si Unyil dan Keluarga Cemara sebagai karya yang masih memiliki relevansi. Tantangannya adalah bagaimana mengemas kembali karakter dan ceritanya agar dapat diterima oleh generasi masa kini.

Pendekatan tersebut dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk mempertemukan kekayaan cerita lokal dengan kebiasaan konsumsi konten generasi digital.

PFN Heritage Berpotensi Jadi Ruang Kreatif

Selain membahas film anak, diskusi juga menyoroti potensi PFN Heritage sebagai ruang kreatif alternatif di Jakarta. PFN memiliki sejarah panjang dalam perjalanan perfilman nasional. Karena itu, keberadaan PFN Heritage dinilai memiliki nilai strategis, bukan hanya sebagai bagian dari warisan sejarah perfilman, tetapi juga sebagai ruang yang dapat dihidupkan melalui berbagai kegiatan kreatif.

Ruang tersebut dapat dimanfaatkan untuk diskusi, pemutaran film, pertunjukan seni, workshop, kegiatan edukasi, hingga pertemuan komunitas. Kehadiran ruang kreatif alternatif juga dinilai dapat memperluas pilihan lokasi bagi komunitas dan pelaku industri kreatif. Generasi muda pun memiliki kesempatan lebih besar untuk berinteraksi secara langsung dengan pekerja industri dan mengembangkan kemampuan mereka.

Mengenalkan Ekosistem Industri Film kepada Generasi Muda

Kehadiran pelajar dan generasi muda menjadi bagian penting dalam agenda diskusi tersebut. Mereka tidak hanya diperkenalkan pada film sebagai produk hiburan, tetapi juga pada ekosistem industri yang berada di balik sebuah produksi. Industri film mencakup berbagai profesi, mulai dari penulis skenario, produser, sutradara, sinematografer, penata artistik, penyunting, penata musik, hingga bidang distribusi dan pemasaran.

Pengenalan tersebut diharapkan dapat membuka wawasan generasi muda mengenai beragam peluang karier di industri kreatif sekaligus mendorong mereka untuk mengembangkan kompetensi sesuai minat masing-masing.

Musik, Seni, UMKM hingga Esports

Kreatif Merdeka Karnival 2026 tidak hanya menghadirkan agenda perfilman. Berbagai kegiatan hiburan dan kreatif juga disiapkan sepanjang penyelenggaraan. Pengunjung dapat menikmati wahana karnaval, termasuk rumah hantu dan berbagai permainan yang ditujukan bagi keluarga maupun anak muda.

Di panggung Sound Frame, pertunjukan musik secara langsung menjadi salah satu agenda utama. Sejumlah guest star dan band dijadwalkan tampil, dilengkapi marching band serta pertunjukan tari kreasi Nusantara. Kegiatan juga menyediakan area bazar dan eksebisi yang memberikan kesempatan kepada pelaku UMKM untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan produk mereka kepada pengunjung.

Sementara itu, Sustainable Pre-Love Fashion Showcase menghadirkan perspektif berbeda melalui konsep fesyen berkelanjutan. Kegiatan tersebut mengangkat pemanfaatan kembali pakaian dan produk fesyen sebagai bagian dari gerakan kreatif yang lebih ramah lingkungan.

Layar Tancap hingga Kompetisi Mobile Legends

Agenda kreatif lainnya mencakup pemutaran layar tancap, diskusi film, serta workshop micro drama. Bagi pengunjung yang menyukai kompetisi, tersedia sejumlah perlombaan seperti drum competition, tari tradisional, hip hop, fashion show, hingga kompetisi Mobile Legends.

Ragam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa ruang kreativitas generasi muda kini tidak terbatas pada satu bidang. Film, musik, seni pertunjukan, fesyen, gim, hingga esports dapat menjadi medium untuk menyalurkan kreativitas sekaligus membangun potensi ekonomi kreatif.

Perayaan Kemerdekaan dalam Ruang Kreativitas

Kreatif Merdeka Karnival 2026 menjadi salah satu bentuk perayaan kemerdekaan yang menggabungkan hiburan, edukasi, seni, budaya, serta industri kreatif. Keterlibatan pelaku industri, komunitas, UMKM, pelajar, keluarga, dan generasi muda membuat kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada hiburan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan berbagai elemen dalam ekosistem kreatif.

Khusus sektor perfilman, diskusi mengenai film anak menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi antara pelaku industri dengan generasi penerus. Forum tersebut sekaligus membuka wawasan mengenai tantangan dan peluang industri film Indonesia di tengah perubahan pola konsumsi hiburan.

Kreatif Merdeka Karnival 2026 berlangsung di PFN Heritage, Jakarta Timur, mulai 9 Agustus hingga 6 September 2026. Area kegiatan dibuka setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 22.00 WIB.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, PFN Heritage diharapkan tidak hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah perfilman Indonesia, tetapi juga berkembang menjadi ruang kreatif yang aktif, terbuka, dan relevan bagi generasi muda.