Femindonesia.com, JAKARTA – Pendakwah sekaligus podcaster, Habib Jafar, terlibat langsung dalam proses kreatif film Seni Merayu Tuhan yang diadaptasi dari buku terlaris karya dirinya. Tak hanya memberikan izin adaptasi, Habib Jafar juga ikut mengembangkan ide cerita dan melakukan supervisi skenario agar film tersebut tetap relevan dengan realitas kehidupan generasi muda.

Film mengangkat cerita perjalanan seorang anak muda yang tengah mencari makna hidup di tengah berbagai tekanan, mulai dari persoalan keluarga, kesehatan mental, hingga hubungan spiritual.

Dalam proses penulisan naskah bersama tim Wahana Kreator, Habib Jafar menekankan agar tokoh utama tidak digambarkan sebagai sosok yang telah sempurna sejak awal.

“Pesan saya saat awal ketika mengembangkan ide film ini adalah, tolong jangan bikin tokoh utamanya itu orang yang sudah suci dari awal. Karena itu tidak relatable buat anak muda zaman sekarang. Anak muda sekarang itu lagi capek. Capek di-judge, capek dituntut macam-macam,” ujar Habib Jafar.

Menurutnya, sosok yang “tersesat” justru lebih dekat dengan realitas yang sering ia temui ketika berinteraksi dengan anak-anak muda. Ia menilai kegelisahan yang mereka alami dapat menjadi jalan untuk membangun hubungan yang lebih jujur dengan Tuhan.

Habib Jafar menggambarkan tokoh utama sebagai representasi anak muda yang mungkin terlihat jauh dari agama, namun diam-diam memiliki pergulatan batin yang mendalam.

“Tokoh utama di film ini adalah representasi anak-anak yang mungkin tatonya banyak, mungkin jarang ke masjid, tapi di dalam kamarnya, jam 3 pagi, dia menangis dan ngobrol sama Tuhan. Nah, obrolan jam 3 pagi itulah bentuk rayuan paling indah,” katanya.

Dari sisi visual, Seni Merayu Tuhan mengusung pendekatan sinematografi yang puitis dan reflektif. Berbagai adegan sederhana, seperti menikmati rintik hujan di angkringan ketika hidup terasa berat, digunakan sebagai simbol bahwa kedekatan dengan Tuhan dapat hadir melalui pengalaman sehari-hari yang tulus, bukan semata hubungan yang bersifat transaksional.

Melalui film ini, Habib Jafar berharap penonton, khususnya generasi muda, memperoleh ruang refleksi tanpa merasa dihakimi.

“Kalau selama ini kalian merasa jauh dari Tuhan, merasa berdosa banget, ingat, Tuhan itu Maha Penerima Rayuan. Jangan takut untuk kembali, karena Tuhan selalu menunggu kalian untuk pulang,” tuturnya.

Film Seni Merayu Tuhan dibintangi oleh Ari Irham, Lutesha, Rieke Diah Pitaloka, Teuku Ryzki, Habib Jafar, Arie Kriting, Sita Nursanti, Onadio Leonardo, serta Alfie Alfiandy.

Film ini diproduseri oleh Salman Aristo bersama Sigit Pratama, sekaligus menjadi debut penyutradaraan editor peraih tiga Piala Citra FFI, Cesa David Luckmansyah. Naskahnya ditulis oleh Rino Sarjono bersama Salman Aristo dan Gina S. Noer, yang juga bertindak sebagai produser eksekutif bersama Orchida Ramadhania.

Seni Merayu Tuhan diproduksi oleh Wahana Kreator bekerja sama dengan PK Films, Emtek Media, Starvision, Magma Entertainment, Virtuelines Entertainment, dan Suraya Filem, serta dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 13 Agustus 2026.