FEM Indonesia, Jakarta – Menyambut Hari Pers Nasional yang diperingati 9 Februari 2026, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI bersama media menggelar diskusi Z-Talk di Gedung BAZNAS RI, Jakarta, Senin (2/2/2026).

Mengusung tema Zakat Menguatkan Indonesia, melalui diskusi ini BAZNAS menilai pentingnya peran media dalam memperkuat literasi publik dan membangun narasi zakat sebagai arsitektur pembangunan nasional yang bukan semata aktivitas filantropi.

Z-Talk ini sendiri merupakan salah satu kegiatan tatap muka antara pimpinan BAZNAS dengan praktisi/pimpinan media massa yang bertujuan sebagai wadah untuk meningkatkan komunikasi dan koordinasi antara pimpinan di lingkungan BAZNAS dengan awak media massa, serta untuk motivasi dan produktivitas kerja.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pengumpulan Dr. H. Rizaludin Kurniawan, M.Si., CFRM., Pimpinan BAZNAS RI Saidah Sakwan, M.A., Pemimpin Redaksi Kompas.com Amir Sodikin, Pemimpin Redaksi Republika Andi Muhyiddin, publik figur Fairuz A. Rafiq, serta dihadiri wartawan media nasional dan mahasiswa.

Dalam kesempatan tersebut, Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pengumpulan Dr. H. Rizaludin Kurniawan M.Si., CFRM memaparkan strategi penghimpunan BAZNAS RI. Menurutnya, penguatan strategi penghimpunan yang dilakukan melalui komunikasi yang masif dan berkelanjutan, serta perluasan kanal pembayaran.

Saat ini, pihaknya telah bekerja sama dengan lebih dari 120 kanal digital, puluhan perbankan, serta membangun Unit Pengumpul Zakat (UPZ) di berbagai komunitas, platform, dan institusi pendidikan.

“Perbaikan menyeluruh dari sisi layanan dan komunikasi berdampak pada meningkatnya retensi donatur. Dalam dua tahun terakhir, tingkat retensi donatur yang sebelumnya berhenti dapat dijaga hingga sekitar 60 persen,” ujar Rizaludin.

Ditambahkan oleh Pimpinan BAZNAS RI Saidah Sakwan, M.A bahwa optimalisasi penghimpunan harus diiringi dengan penyaluran ZIS yang tepat sasaran dan berdampak nyata.

Ia mengungkapkan Indonesia masih menghadapi tantangan besar dengan jumlah penduduk miskin sekitar 25,4 juta jiwa, terutama pada kelompok miskin ekstrem.

“Tujuan akhir dari berbagai program yang kami jalankan adalah mendorong mustahik keluar dari garis kemiskinan dan bertransformasi menjadi muzaki secara berkelanjutan,” ungkapnya.

Sementara itu, Pemimpin Redaksi Kompas.com, Amir Sodikin, menilai zakat memiliki posisi strategis dalam sistem ekonomi modern karena berfungsi sebagai instrumen distribusi kekayaan yang mampu mencegah ketimpangan sosial dan memperkuat ekonomi keluarga.

Dikatakannya, zakat tidak hanya bertujuan menggugurkan kewajiban agama, tetapi menjadi mekanisme aktif untuk mengalirkan likuiditas langsung ke masyarakat bawah.

“Zakat adalah arsitektur ekonomi yang sejak awal dirancang untuk menghindari ketimpangan. Dalam Islam, distribusi kekayaan tidak menunggu trickle down effect, tetapi diwajibkan mengalir langsung dari pemilik modal kepada masyarakat yang membutuhkan,” kata Amir.

Pemred Kompas.com ini menekankan pentingnya peran media dalam menarasikan zakat sebagai solusi pembangunan. Oleh karena itu, perlu dipahami publik bahwa BAZNAS bukan hanya sebagai lembaga filantropi, tetapi sebagai institusi pembangunan sosial-ekonomi yang bekerja secara sistematis dan terukur.

“Kepercayaan publik lahir dari narasi yang kuat dan konsisten. Program-program BAZNAS yang menyasar kemiskinan ekstrem, penguatan ekonomi, hingga mendorong mustahik naik kelas harus terus dikomunikasikan secara luas,” katanya.

Hal senada dikatakan Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyiddin, bahwa media dan lembaga filantropi memiliki kesamaan peran, yakni membangun dan menjaga kepercayaan publik. Ia menilai zakat merupakan potensi sosial besar yang dapat menjadi sistem distribusi keadilan, instrumen penguatan ekonomi umat, sekaligus pilar ketahanan sosial.

“Media tidak cukup hanya meliput, tetapi juga perlu bertransformasi menjadi penggerak kesadaran publik. Zakat harus diposisikan sebagai solusi nyata bagi persoalan sosial dan ekonomi,” pungkas Andi.