Femindonesia.com, Jakarta – Jakarta Film Week 2026 resmi menutup rangkaian festival selama lima hari dengan pemutaran film Laut Bercerita di CGV Grand Indonesia, Minggu (25/10/2026). Pada malam penutupan tersebut, Filipiñana karya Rafael Manuel meraih Global Feature Award, sementara Nobody Loves Kay garapan Bernardus Raka memenangkan Direction Award.
Penutupan festival juga diwarnai pengumuman penerima JFWNET—Industry Program Awards, yang memberikan dukungan kepada proyek-proyek film Indonesia untuk mengembangkan cerita, memperkuat produksi, hingga membuka peluang kolaborasi dengan jaringan industri internasional.
Berlangsung sejak 21 Oktober 2026, Jakarta Film Week tahun ini menghadirkan lebih dari 5.000 penonton serta tamu industri dari Asia Tenggara, Eropa, dan Amerika Latin. Festival tersebut menjadi ruang pertemuan bagi sineas, pelaku industri, komunitas, dan penonton melalui pemutaran film, diskusi, serta program pengembangan proyek.
Filipiñana dan Nobody Loves Kay Jadi Sorotan
Filipiñana, karya sutradara Rafael Manuel yang merupakan produksi bersama Filipina, Inggris, Singapura, Prancis, dan Belanda, berhasil membawa pulang Global Feature Award.
Dewan juri mengapresiasi film tersebut karena dinilai mampu menggambarkan persinggungan gender dan kelas dalam masyarakat yang dibentuk oleh privilese serta dibayangi warisan kolonial. Film ini juga dinilai menghadirkan gambaran puitis tentang keruntuhan hierarki sosial.
Sementara itu, Nobody Loves Kay karya Bernardus Raka meraih Direction Award. Film yang mengangkat hubungan antarmanusia dan proses pendewasaan dalam dunia esports tersebut memperoleh penghargaan tertinggi untuk kategori film Indonesia di Jakarta Film Week.
Penghargaan lainnya diberikan kepada Bleat! karya Ananth Subramaniam yang memenangkan Global Short Award, serta What We Leave Behind karya Jean-Sébastien Hamel dan Alexandra Myotte yang meraih Global Animation Award.
Adapun Jakarta Film Fund Award diberikan kepada The Year Without Summer karya Rayhan Dharmawan. Film ini mendapat apresiasi karena dinilai mampu menggambarkan kehidupan Jakarta masa kini dengan kepekaan dan kejujuran.
Proyek Film Indonesia Mendapat Dukungan Industri
Selain penghargaan kompetisi, Jakarta Film Week 2026 mengumumkan sejumlah proyek yang memperoleh dukungan melalui JFWNET—Industry Program Awards. Dalam kategori Producers Lab Development Grant, dukungan diberikan kepada Utari Hanif Assyuri melalui proyek SALTSTORM!.
Tiga proyek terpilih untuk mengikuti Platform Busan 2027, yakni A Burnt Engine Who Can’t See the Light karya Jonathan Gradiyan, Rollinghead karya Panji Respati, dan Irama Rama karya Dendy Ariza Putra.
Sementara itu, Pitching Forum Development Grant diberikan kepada Gokill, yang disutradarai Amanda Iswan dan diproduseri James Erlangga.
Proyek My Tears, A Sea for Jakarta to Sink, garapan sutradara Andrea Nirmala Widjajanto dan produser Nirartha Bas Diwangkara, memperoleh Jakarta Film Commission Development Grant sekaligus QCinema Special Prize.
Dukungan internasional lainnya diberikan melalui HKIFF Industry Award kepada Holy Mother, karya sutradara Sinung Winahyoko dan produser Fadhila Ristianty. Bunga Ineza juga terpilih mengikuti EFM Toolbox Berlinale 2027.
Untuk kebutuhan pascaproduksi, Super 8mm Studio Post Production Support diberikan kepada Gabriela Serrano melalui proyek Music Memory.
Sementara itu, BSM Premiere Gear Fund memberikan dukungan produksi kepada tujuh proyek, yaitu Badass Boi, Push Rank, My Tears, A Sea for Jakarta to Sink, Script: Maria, Holy Mother, Gokill, dan Oh… Marijuana!.
Program Producers Lab, Talents Hub, dan Pitching Forum turut mendapat dukungan Manajemen Talenta Nasional (MTN), Kementerian Kebudayaan RI.
Berbagai dukungan tersebut diharapkan dapat membantu sineas Indonesia mengembangkan proyek dari tahap penulisan dan presentasi hingga produksi, pascaproduksi, serta memperluas akses ke jaringan industri film internasional.
Laut Bercerita Tutup Festival dengan Kisah Aktivisme dan Kehilangan
Pemutaran Laut Bercerita menjadi salah satu momen utama malam penutupan Jakarta Film Week 2026. Film yang diadaptasi dari novel karya Leila S. Chudori ini mengangkat kisah Biru Laut dan kawan-kawannya yang terlibat dalam gerakan aktivisme mahasiswa pada masa Orde Baru.
Cerita tersebut mengikuti perjuangan mereka menyuarakan perubahan di tengah ancaman penangkapan dan penghilangan paksa. Di sisi lain, film ini juga menggambarkan keluarga yang terus mencari jawaban atas hilangnya orang-orang yang mereka cintai.
Sejumlah pemeran turut hadir dalam pemutaran tersebut, di antaranya Reza Rahadian, Dian Sastrowardoyo, Yunita Siregar, Eva Celia, Christine Hakim, Arswendy Bening Swara, Kevin Julio, Ben Nugroho, Dewa Dayana, Yoga Pratama, Nagra Kautsar, Natalius Chendana, dan Afrian Arisandy.
Kehadiran para pemain mempertemukan sineas dan penonton dalam sebuah pengalaman menonton yang mengangkat persoalan aktivisme, kehilangan, keluarga, dan ingatan sejarah.
Sebelumnya, malam penutupan di ScreenX 1 CGV Grand Indonesia juga dihadiri para sineas, pelaku industri perfilman, tamu mancanegara, mitra festival, serta perwakilan komunitas film.
Rina Damayanti menyampaikan bahwa Jakarta Film Week bukan sekadar ruang pemutaran film, melainkan juga tempat bertemunya gagasan dan terbentuknya kolaborasi baru.
“Jakarta Film Week bukan hanya tentang film yang ditayangkan selama festival, tetapi juga tentang orang-orang yang bertemu, gagasan yang dibagikan, dan kolaborasi yang mulai terbangun,” ujarnya.
Ahmad Mahendra juga menyampaikan apresiasi kepada para sineas, pelaku industri, mitra, komunitas, dan penonton yang telah mendukung penyelenggaraan festival. Ia berharap hubungan yang terbangun selama lima hari tersebut dapat berlanjut dan memberikan kontribusi bagi perkembangan perfilman Indonesia.
Hari Terakhir Hadirkan Film dari Berbagai Negara
Pada hari terakhir, Jakarta Film Week 2026 tetap menghadirkan beragam program pemutaran, diskusi, dan kegiatan industri di sejumlah lokasi.
Program Family Time menghadirkan film Forza di CGV Grand Indonesia, disertai sesi tanya jawab bersama produser Shierly Kosasih serta para pemeran Ghazi Alhabsyi, Atiqah Hasiholan, dan Tio Pakusadewo. Film tersebut mengikuti perjalanan Bima dalam mengejar impian menjadi pesepak bola, dengan hubungan keluarga dan kehidupan desa sebagai bagian penting ceritanya.
Festival juga menggelar world premiere Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, drama-komedi garapan Kuntz Agus yang diadaptasi dari novel karya Brian Khrisna.
Seusai pemutaran, diskusi menghadirkan Nia Daniaty, Bene, Zulfa Maharani, Jourdy Pranata, dan Chicco Kurniawan. Perbincangan membahas proses adaptasi novel ke layar lebar serta pesan tentang harapan di tengah situasi hidup yang sulit.
Sementara itu, program Global Feature Official Selection menampilkan Too Many Beasts (L’Espèce explosive), film panjang debut sutradara Sarah Arnold. Karya tersebut menyajikan satire politik melalui komedi gelap dengan latar sebuah desa di Prancis yang menghadapi persoalan populasi babi hutan.
Sarah Arnold dan penulis naskah Jérémie Dubois hadir dalam sesi diskusi bersama penonton, didampingi Cultural Attaché Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia, Carol Meyer.
Program lain yang turut meramaikan hari terakhir meliputi The Girl With The Leicadalam Herstory, A Bowl of Chicken Noodles Before I Die dalam Global Feature Official Selection, serta Couture dalam Currents.
Program Classique menghadirkan Stepping on the Flying Grass karya Eugene Panji, yang juga dikenal dengan judul Cita-Citaku Setinggi Tanah, di Teater Sjuman Djaya, Taman Ismail Marzuki. Film tersebut mengikuti kisah Agus dan tiga sahabatnya dalam memaknai cita-cita serta kebahagiaan melalui pengalaman sederhana.
Untuk penonton keluarga, festival menghadirkan film animasi Brasil Papaya karya Priscilla Kellen di CGV FX Sudirman. Layar Anak Indonesiana TV yang dipersembahkan Balai Media Kebudayaan di bawah Kementerian Kebudayaan RI juga menampilkan sejumlah karya, antara lain Katumbiri Nutug Leuwi, Samasta Allegra, Meong, Bikul, Kisah si Pemburu, dan Pasukan Singa Kardus.
Berakhirnya Jakarta Film Week 2026 menandai penutupan rangkaian pemutaran dan diskusi selama lima hari. Lebih dari sekadar menghadirkan film dari berbagai negara, festival ini juga mempertemukan para sineas dan pelaku industri untuk membangun koneksi, mengembangkan proyek, serta membuka peluang kolaborasi baru bagi perfilman Indonesia.


Tinggalkan Balasan