Femindonesia.com, SOLO – Upaya menyelamatkan warisan seni pertunjukan wayang orang dari ancaman terputusnya mata rantai pengetahuan terus dilakukan. Salah satunya melalui penelitian, pendokumentasian, dan penerbitan naskah karya para maestro wayang orang yang selama ini banyak diwariskan secara lisan.
Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan menginisiasi penyusunan Buku Dokumentasi Naskah Wayang Orang Karya Maestro yang akan memuat 50 naskah pertunjukan terpilih karya empat maestro, yakni Ki Asmorohadi, Ki Manteb Soedarsono, Ki Tristuti Rahmadi, dan R.Ng. Undung Wiyono Praja Sasmita.
Ketua Pelaksana Survei Data dan Penelitian Dokumentasi Naskah Wayang Orang Karya Maestro, Eddie Karsito, mengatakan pendokumentasian tersebut penting untuk memastikan pakem, nilai filosofis, serta pengetahuan yang terkandung dalam wayang orang dapat diakses oleh generasi berikutnya.
“Langkah ini penting untuk mempermudah akses pakem wayang orang bagi generasi muda dan para peneliti. Melalui dokumentasi yang rapi, nilai filosofis budaya lokal dapat bertransformasi menjadi pesan universal yang relevan bagi peradaban,” ujar Eddie Karsito di Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta, Jumat (25/9/2026).
Menurut Eddie, pengembangan kembali kesenian tradisional di tengah modernisasi dan digitalisasi menjadi bagian penting dari upaya memperkuat identitas budaya nasional.
Wayang orang, kata dia, merupakan bentuk seni pertunjukan yang memadukan seni peran, tari, musik gamelan, dan sastra secara harmonis.
“Lebih dari sekadar tontonan, setiap pementasan mengandung tuntunan moral, nilai filosofis, dan nilai budi pekerti luhur yang merefleksikan identitas serta jati diri bangsa Indonesia,” katanya.
Penelitian dan pengumpulan data untuk penyusunan buku tersebut dilakukan selama sepekan, 21–25 September 2026. Saat ini, proses penyusunan masih berada pada tahap pengumpulan data dan penelitian lanjutan.
Tim survei dan peneliti terdiri atas Eddie Karsito, Edy Sulistiono, S.Sn., dan Undung Wiyono, S.S.
Mendesak Menyelamatkan Naskah Maestro
Penanggung jawab Survei dan Penelitian, Undung Wiyono, S.S., mengatakan dokumentasi karya dan pengetahuan para maestro dalam bentuk naskah wayang orang berada dalam kondisi mendesak untuk diselamatkan.
Terlebih, sejumlah maestro yang selama ini menjadi bagian penting dalam perjalanan wayang orang telah berpulang, di antaranya Ki Asmorohadi, Ki Tristuti Rahmadi Suryoputro, dan Ki Manteb Soedarsono.
Menurut Undung, naskah wayang orang memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan naskah wayang kulit, baik dari struktur adegan maupun durasi pertunjukan.
“Elemen-elemen penting seperti struktur cerita, untaian bahasa sastrawi khas pewayangan, ketepatan diksi, serta dramaturgi yang tersusun rapi dalam lima atau enam babak utuh harus segera dilestarikan,” tegasnya.
Ia menambahkan, berbagai dokumen sejarah, tesis akademis, dan kajian seni mengenai wayang orang sebenarnya telah tersedia di lingkungan akademik. Namun, literasi populer yang mudah diakses masyarakat, khususnya generasi muda, masih terbatas.
“Terlebih lakon wayang orang dalam bentuk naskah. Kebanyakan tradisi wayang orang diwariskan secara lisan atau melalui pakem ingatan dari guru ke murid,” ujar Undung.
Menjadi Jembatan Antargenerasi
Edy Sulistiono, S.Sn., mengatakan penerbitan naskah karya para maestro bukan sekadar proyek pembukuan, tetapi juga bagian dari upaya eksplorasi, penelitian, dan revitalisasi warisan seni pertunjukan.
Menurut dia, dokumentasi tertulis dibutuhkan agar pengetahuan dan pengalaman para maestro tidak berhenti pada satu generasi.
“Imperatif kolektif agar mata rantai kesejarahan tidak kepaten obor atau terputus demi menjaga integritas identitas kultural generasi penerus,” katanya.
Buku tersebut akan mengulas sejumlah aspek, mulai dari sejarah, perkembangan, bentuk pertunjukan, hingga relevansi wayang orang dalam kehidupan masyarakat masa kini.
“Bentuk teater tradisional yang berkesinambungan sejak era Mataram Kuna, eksistensi wayang wong meneguhkan posisinya sebagai manifestasi seni adiluhung yang melintasi zaman,” ujar Edy.
Ia berharap penerbitan buku tersebut dapat menjadi salah satu rujukan untuk memperluas pemahaman masyarakat terhadap wayang orang sekaligus mendukung pelestarian seni pertunjukan Nusantara.
Seniman Apresiasi Upaya Dokumentasi
Seniman wayang orang dari kelompok Wayang Orang RRI Surakarta, Ali Marsudi, mengapresiasi inisiatif penerbitan 50 naskah pertunjukan karya para maestro tersebut.
Menurut Ali, dokumentasi tertulis dapat menjadi jawaban atas keterbatasan literasi dan arsip mengenai wayang orang yang selama ini dirasakan para pelaku seni.
“Gagasan visioner yang hadir sebagai jawaban atas kegelisahan sosiokultural kami, para pelaku seni, di tengah minimnya literasi dan dokumentasi tertulis mengenai khazanah adiluhung ini,” ungkapnya.
Ali mengatakan para seniman wayang orang memiliki harapan agar tersedia ruang literasi yang memungkinkan wayang orang dipahami tidak hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai pengetahuan yang dapat dipelajari melalui narasi tertulis.
“Momentum ini terasa kian personal dan bermakna substantif bagi saya. Mengingat sebagian besar lakon dalam naskah yang diabadikan ini merupakan perwujudan dari rekam jejak kepenarian dan keaktoran saya di atas panggung,” ujarnya.
Ia menilai penerbitan naskah karya maestro dapat menjadi jembatan antargenerasi untuk memastikan pengetahuan mengenai wayang orang tetap hidup dan dapat dipelajari oleh generasi mendatang.
“Wayang orang adalah sebuah semesta yang teramat luas dan kompleks. Semoga rekonstruksi literasi yang dilakukan secara bertahap ini mampu bertransformasi menjadi sebuah karya ensiklopedis yang utuh,” katanya.
Menyelamatkan Denyut Panggung Wayang Orang
Wayang orang pernah mengalami masa kejayaan dalam sejarah seni pertunjukan Indonesia. Pada era 1960–1970-an, kesenian tersebut bahkan memiliki sejumlah kelompok yang aktif tampil di panggung-panggung urban, termasuk Jakarta.
Saat ini, keberlangsungan wayang orang antara lain ditopang oleh kelompok-kelompok yang masih aktif seperti Wayang Orang Sriwedari dan Wayang Orang RRI Surakarta di Surakarta, Wayang Orang Ngesti Pandhawa di Semarang, serta Wayang Orang Bharata di Jakarta.
Di tengah perubahan ekosistem seni pertunjukan dan berkurangnya generasi maestro, dokumentasi naskah dinilai menjadi salah satu cara untuk menjaga kesinambungan pengetahuan.
Pembukuan naskah lakon diharapkan dapat menjembatani kesenjangan antara pengetahuan generasi terdahulu dengan kemampuan bahasa, ekspresi, dan seni peran generasi aktor wayang orang masa kini.
Buku Dokumentasi Naskah Wayang Orang Karya Maestro tersebut rencananya diterbitkan dalam dua jilid. Masing-masing jilid memuat 25 naskah terpilih.
Distribusinya akan dilakukan secara hibrida. Edisi cetak akan diterbitkan dalam jumlah terbatas, sedangkan akses yang lebih luas disiapkan melalui format e-book yang akan diunggah di situs resmi humaniora milik Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan.
Upaya tersebut diharapkan menjadi bagian dari ikhtiar menjaga agar pengetahuan, karya, dan nilai yang terkandung dalam wayang orang tidak berhenti sebagai kenangan masa lalu, tetapi tetap hidup dan dapat dipelajari lintas generasi.


Tinggalkan Balasan