Femindonesia.com, JAKARTA – Aktor Nicholas Saputra tak hanya menjadi pemeran utama, tetapi juga produser sekaligus pencetus gagasan film Merah Sebelum Fajar(Red Before Dawn), karya sutradara Garin Nugroho yang mengangkat sisi lain perjuangan Indonesia pada awal kemerdekaan.
Film produksi Atarui Films ini berawal dari diskusi Nicholas dan Garin sekitar dua hingga tiga tahun lalu, ketika keduanya bekerja sama dalam film musikal Siapa Dia. Dari proses tersebut, mereka melihat periode 1946–1949 sebagai bagian penting sejarah Indonesia yang belum banyak diangkat ke layar lebar.
“Semuanya dimulai sekitar dua atau tiga tahun lalu saat saya dan Garin syuting. Saya sebagai aktor, dan Garin sebagai sutradara,” kata Nicholas dalam siaran pers, Rabu (28/10/2026).
Menurut Nicholas, perjuangan mempertahankan kemerdekaan bukan hanya tentang pertempuran melawan kembalinya kekuasaan kolonial. Di baliknya, terdapat kehidupan masyarakat sipil yang diwarnai ketidakpastian, ketakutan, kekerasan, serta perbedaan yang menguji persatuan bangsa.
Gagasan tersebut kemudian dikembangkan Garin bersama penulis Dirmawan Hatta menjadi cerita yang menyoroti kompleksitas perjuangan sekaligus konflik antarsesama anak bangsa.
“Ya, karena terlalu banyak kekerasan dan ketidakberdayaan di dunia ini. Dan ketika Nicho menawarkan ini, menurut saya harus dibuat film ini,” tutur Garin.
Mengangkat Kemanusiaan di Tengah Konflik
Bagi Garin, Merah Sebelum Fajar bukan sekadar film sejarah, melainkan juga ruang refleksi mengenai kekerasan, peperangan, dan makna kemerdekaan. Film ini mengajak penonton melihat kembali perjalanan bangsa melalui pengalaman masyarakat yang hidup di tengah situasi politik dan keamanan yang belum stabil.
Berlatar Indonesia pada 1946, film ini mengikuti Frans, ahli tambang keturunan Belanda-Indonesia yang diperankan Nicholas Saputra. Ia mendapat tugas membawa dokumen penting dari Jakarta menuju Yogyakarta, yang saat itu menjadi ibu kota sementara Republik Indonesia.
Dokumen tersebut diharapkan membantu pemerintahan baru mengelola kekayaan mineral Indonesia. Namun, perjalanan Frans mempertemukannya dengan berbagai persoalan yang memperlihatkan bahwa perjuangan membangun negara tidak selalu berlangsung dalam kesatuan.
Frans ditemani Qasim, pria keturunan India yang gemar mengutip karya Rabindranath Tagore, diperankan Bront Palarae. Perjalanan mereka juga melibatkan calon perawat keturunan Tionghoa yang diperankan Laura Basuki, penyanyi keliling yang dimainkan Tissa Biani, serta Arya, teknisi radio tunanetra yang diperankan Nagra Pakusadewo.
Melalui pertemuan para tokoh dengan latar belakang etnis, agama, dan pandangan hidup berbeda, film ini menggambarkan tantangan membangun persatuan di tengah kecurigaan, pertentangan, dan kekerasan.
Garin berharap kisah tersebut membuka ruang pembicaraan mengenai bagian sejarah yang belum banyak diketahui masyarakat, terutama generasi muda.
“Dan saatnya memang harus dibuka, untuk direnungi,” katanya.
Bersaing di Festival Film Tokyo 2026
Merah Sebelum Fajar menjadi satu-satunya film perwakilan Indonesia yang masuk kompetisi utama Tokyo International Film Festival 2026. Film tersebut bersaing dengan 14 karya dari berbagai negara, dengan pengumuman pemenang dijadwalkan pada 4 November 2026.
Setelah mengikuti festival internasional tersebut, film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 21 Januari 2027.
Melalui Merah Sebelum Fajar, Nicholas Saputra dan Garin Nugroho menghadirkan perspektif bahwa sejarah kemerdekaan tidak hanya dibentuk oleh pertempuran dan tokoh-tokoh besar. Kehidupan masyarakat sipil, perbedaan, serta upaya merawat persatuan juga menjadi bagian penting dari perjalanan Indonesia sebagai bangsa.


Tinggalkan Balasan