Femindonesia.com, Jakarta – Surplus produksi ayam broiler mencapai 36,01 persen, harga telur di tingkat peternak tertekan hingga Rp20.000 per kilogram, dan ketimpangan distribusi pangan hewani masih menjadi tantangan industri peternakan nasional. Berbagai persoalan tersebut akan menjadi sorotan dalam NLP & INDOGRITECH Expo 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 4–7 November di ICE BSD City, Tangerang.
Gambaran kondisi industri peternakan, pertanian, dan teknologi pangan itu mengemuka dalam konferensi pers NLP & INDOGRITECH Expo 2026 di Sekretariat Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Gedung Arsip Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (27/10/2026).
Lima narasumber dari penyelenggara, industri alat pertanian, organisasi petani, hingga pelaku usaha peternakan memaparkan sejumlah tantangan sekaligus peluang untuk memperkuat rantai pasok dan ketahanan pangan nasional.
Project Manager Debindo, Rafidi, mengatakan pameran tahun ini menargetkan 100 peserta dan 20.000 pengunjung, meningkat dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya yang diikuti 70 peserta dengan 10.000 pengunjung.
Menurut Rafidi, pameran tidak hanya menjadi ajang promosi, tetapi juga sarana bagi pelaku usaha dan pengunjung untuk melihat langsung produk, teknologi, mesin, serta ketersediaan suku cadang. Ekosistem yang ditampilkan mencakup bibit, pakan, alat dan mesin pertanian, pengolahan pangan, hingga teknologi rantai dingin.
Mekanisasi Pertanian dan Skema Traktor Satu Desa
Perwakilan Mahindra Tractors, Toto, menyoroti rendahnya penetrasi traktor di Indonesia. Pasar traktor nasional disebut baru mencapai sekitar 15.000 unit per tahun, jauh dibandingkan India yang mencapai satu juta unit.
Mahindra berencana memperkenalkan traktor OJA 40 HP yang dinilai sesuai untuk kebutuhan lahan di Indonesia, termasuk traktor roda empat, rice transplanter, dan harvester untuk mendukung proses penanaman serta panen padi.
Toto juga menyoroti persoalan traktor yang tidak beroperasi akibat keterbatasan layanan purnajual dan ketersediaan suku cadang.
“Keunggulan Mahindra, sistemnya masih dominan mekanik sehingga mudah dikuasai teknisi di lapangan. Kami siapkan pelatihan bersama Gapoktan, jaminan sparepart, dan skema pembiayaan sharing. Satu traktor bisa digunakan bersama untuk satu desa atau satu kelurahan,” ujar Toto.
Skema penggunaan bersama tersebut diharapkan dapat memperluas akses petani terhadap mekanisasi tanpa harus menanggung seluruh biaya kepemilikan mesin secara individual.
HKTI Dorong Rantai Pasok Protein Hewani
Perwakilan HKTI, Cecep, memaparkan peran organisasi tersebut dalam mendukung rantai pasok pangan, termasuk kebutuhan protein hewani untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Cecep menyebut HKTI mengawal dana MBG senilai Rp218 triliun, dengan alokasi Rp80 triliun untuk kebutuhan protein hewani. Untuk mendukung distribusi, HKTI mendorong keterlibatan Koperasi Merah Putih, digitalisasi, pengendalian mutu, penerapan sistem rantai dingin, serta pengelolaan stok menggunakan metode first in, first out (FIFO).
HKTI juga menargetkan pembangunan 4.000–5.000 unit cold storage untuk memperkuat penyimpanan dan distribusi bahan pangan. Setiap fasilitas ditargetkan melayani lima hingga 10 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Kami memosisikan HKTI sebagai orkestrator. Kami menargetkan pembangunan 4.000 hingga 5.000 unit cold storage. Satu storage akan melayani lima hingga 10 dapur SPPG,” kata Cecep.
Surplus Produksi Tekan Harga Telur dan Ayam
Sorotan utama disampaikan perwakilan Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Ashrokh, yang mengungkapkan ketidakseimbangan antara produksi dan kebutuhan pasar menjadi salah satu tekanan bagi industri perunggasan.
Harga telur di tingkat peternak disebut berada di kisaran Rp20.000–Rp21.000 per kilogram, di bawah harga acuan penjualan sebesar Rp26.500 per kilogram.
Menurut Ashrokh, salah satu penyebab kelebihan pasokan telur adalah penundaan afkir ayam petelur. Masa pemeliharaan yang semula sekitar 90 minggu diperpanjang hingga 120 minggu sehingga menambah jumlah ayam produktif di luar kebutuhan ideal.
Ia memaparkan populasi ayam petelur produktif yang ideal sekitar 391 juta ekor, ditambah 17 juta ekor ayam starter. Namun, populasi yang ada disebut telah mencapai sekitar 521 juta ekor atau kelebihan sekitar 130 juta ekor.
Tekanan serupa terjadi pada ayam broiler. Produksi 2026 diproyeksikan mencapai 4,35 miliar ekor, sementara kebutuhan diperkirakan 3,19 miliar ekor. Kondisi tersebut menghasilkan surplus sekitar 36,01 persen. Sementara itu, surplus telur diperkirakan mencapai 13,23 persen.
Ashrokh juga menyoroti ketimpangan distribusi produksi antarwilayah. Produksi telur masih terkonsentrasi di Jawa sebesar 62,9 persen, disusul Sumatera 22,85 persen, Sulawesi 5,7 persen, dan Kalimantan 3,8 persen. Sejumlah wilayah Indonesia timur masih memiliki kontribusi produksi yang relatif rendah.
“Sumatera bagian tertentu, sebagian Kalimantan, dan Indonesia Timur masih merah kekurangan ayam dan telur. Produk dari Jawa mengalir ke timur, jadi apa yang terjadi di Jawa berdampak ke seluruh Indonesia,” ujarnya.
Di sisi lain, konsumsi ayam karkas nasional terus meningkat, dari 9,5 kilogram per kapita pada 2018 menjadi 13,6 kilogram pada 2025. Angka tersebut diproyeksikan mencapai 14,1 kilogram pada 2026.
Ashrokh menilai, solusi persoalan kelebihan pasokan tidak cukup dengan mengurangi produksi. Industri perlu menekan harga pokok produksi (HPP), meningkatkan efisiensi, dan memperluas konsumsi masyarakat.
Ia juga menyoroti biaya pakan yang menyerap sekitar 70 persen dari total biaya produksi, sementara harga jagung disebut mendekati Rp9.000 per kilogram.
“Solusinya bukan mengurangi produksi, melainkan menurunkan HPP dan meningkatkan konsumsi,” tegasnya.
Peternakan Lokal dan Ekonomi Sirkular
Narasumber kelima, Nanang, yang mewakili GPPU, menjabat Wakil Ketua Umum Peternakan DPN AKPI sekaligus Founder Nusaqu, mengangkat potensi pengembangan ternak lokal, khususnya kambing, domba, dan sapi.
Ia mendorong penerapan konsep ekonomi sirkular dengan memanfaatkan limbah peternakan sebagai pupuk dan limbah industri sebagai bahan pakan ekonomis. Pendekatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi usaha sekaligus mendukung praktik peternakan yang lebih berkelanjutan.
Dalam pameran mendatang, Nusaqu akan menghadirkan mini peternakan dengan sapi, kambing, dan domba hidup. Selain itu, akan digelar forum bisnis selama tiga hari yang mengusung tiga pilar, yakni pengalaman lapangan, penguatan ekosistem, dan forum bisnis.
Program Green Qurban bertema “Lestari untuk Semesta” juga akan diperkenalkan sebagai bagian dari upaya mendorong praktik peternakan yang lebih memperhatikan aspek lingkungan.
Melalui NLP & INDOGRITECH Expo 2026, penyelenggara berharap pelaku industri, petani, peternak, penyedia teknologi, dan pemangku kepentingan dapat memperkuat kolaborasi dari hulu hingga hilir.
Pameran ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang transaksi bisnis, tetapi juga ruang untuk mencari solusi atas persoalan surplus produksi, efisiensi biaya, pemerataan distribusi, mekanisasi pertanian, dan penguatan ketahanan pangan nasional.


Tinggalkan Balasan