Femindonesia.com, DEPOK — Upaya melestarikan angklung sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan UNESCO terus dilakukan. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Depok bersama Sanggar Budaya Suluk Nusantara (Sanggar SN) akan menggelar Harmoni Angklung di Depok Town Square (Detos), Minggu, 11 Oktober 2026.
Pagelaran bertema “Bersama dalam Nada, Harmonis dalam Kebersamaan”tersebut digelar sebagai bagian dari rangkaian menyambut Hari Angklung Sedunia yang diperingati setiap 16 November.
Ketua Panitia Harmoni Angklung, Winarni, mengatakan kegiatan tersebut ditargetkan melibatkan sekitar 300 pemain angklung dari wilayah Jabodetabek.
“Ditargetkan ada 300 pemain angklung yang akan tampil dari wilayah Jabodetabek,” kata Winarni, Kamis (3/9/2026).
Peserta Harmoni Angklung terbuka bagi sanggar seni dan budaya, komunitas angklung, organisasi, instansi, pecinta seni budaya hingga masyarakat umum. Kegiatan ini menyasar peserta kalangan dewasa, dengan peserta yang tampil akan mendapatkan trofi dan sertifikat.
Menurut Winarni, kegiatan tersebut diharapkan mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Depok maupun kalangan dunia usaha. Dukungan tersebut dinilai penting agar upaya pelestarian angklung dapat terus berjalan di tengah perkembangan era digital.
“Kami berharap Kota Depok akan menjadi pusat pelestarian angklung, sekaligus memeriahkan Hari Angklung Sedunia pada 16 November 2026,” ujarnya.
Angklung, Warisan Budaya UNESCO
Angklung merupakan alat musik tradisional berbahan bambu yang berkembang dari budaya Sunda di Jawa Barat. Alat musik ini tidak hanya memiliki nilai seni, tetapi juga merepresentasikan nilai kerja sama, kebersamaan dan keharmonisan sosial karena dimainkan secara berkelompok.
UNESCO menetapkan angklung sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaanpada 16 November 2010 dalam sidang yang berlangsung di Nairobi, Kenya.
Nilai kebersamaan tersebut menjadi salah satu pesan utama yang ingin dibawa PWI Kota Depok melalui Harmoni Angklung.
Ketua PWI Kota Depok, Rusdy Nurdiansyah, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar pertunjukan musik tradisional, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertemukan komunitas sekaligus memperkuat semangat kebersamaan melalui seni budaya.
“Harmoni Angklung adalah kegiatan seni budaya yang mempertemukan komunitas angklung sekaligus melestarikan angklung sebagai warisan dengan memperkuat kebersamaan melalui harmoni nada dan sosial,” kata Rusdy.
Ia menilai angklung memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar alat musik tradisional masyarakat Jawa Barat. Setiap pemain memegang peran penting dalam menghasilkan sebuah komposisi musik secara utuh.
“Angklung bukan sekadar alat musik tradisional masyarakat Jabar, tetapi merupakan simbol kebersamaan, keharmonisan dan gotong royong,” ujarnya.
“Setiap angklung menghasilkan satu nada, dan keindahan musik tercipta ketika seluruh nada dimainkan secara bersama-sama. Ketika budaya tumbuh, masyarakat semakin sehat, bahagia dan Kota Depok akan memiliki identitas yang membanggakan,” lanjut Rusdy.
Menuju Festival Angklung Nusantara 2027
Harmoni Angklung juga diproyeksikan menjadi langkah awal menuju penyelenggaraan Festival Angklung Nusantara yang direncanakan berlangsung pada November 2027.
PWI Kota Depok berharap festival tersebut nantinya dapat berkembang menjadi agenda seni dan budaya tahunan di Kota Depok serta menjadi wadah bagi komunitas angklung dari berbagai daerah untuk bertemu, berkolaborasi dan memperkenalkan kekayaan musik tradisional Indonesia kepada masyarakat luas.
Melalui Harmoni Angklung, PWI Kota Depok ingin menjadikan pelestarian budaya tidak berhenti pada seremoni, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama yang melibatkan komunitas, pemerintah, dunia usaha dan masyarakat.
Dengan melibatkan ratusan pemain angklung, kegiatan tersebut diharapkan dapat memperlihatkan bahwa warisan budaya tradisional tetap memiliki ruang dan relevansi di tengah perkembangan zaman dan teknologi digital.


Tinggalkan Balasan