Femindonesia.com, JAKARTA – Penyanyi dan pencipta lagu Indra Adhari kembali memperkuat langkahnya di industri musik Tanah Air dengan merilis single terbaru berjudul “Lima Tahun”. Lagu tersebut dirilis bertepatan dengan momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan menjadi bagian dari proyek One Month One Song.
“Lima Tahun” merupakan single ke-8 dalam proyek yang digagas Bois Famous Maker. Konsep tersebut menantang Indra untuk konsisten melahirkan karya baru setiap bulan.
Kabar menarik datang setelah perilisan single tersebut. Indra mendapat kesempatan bekerja sama dengan Life Records Malaysia, label musik asal Malaysia. Kerja sama itu akan diwujudkan melalui proyek remake lagu milik grup slow rock legendaris Malaysia, IKLIM, yang direncanakan pada September 2026.
Bagi Indra, kesempatan tersebut menjadi pencapaian penting dalam perjalanan musiknya. Terlebih, almarhum Salim, vokalis IKLIM, merupakan salah satu musisi yang telah menjadi idolanya sejak remaja.
“Alhamdulillah kerja sama dengan Pak Osman, bos label Life Records Malaysia, dengan me-remake lagu dari band IKLIM adalah sebuah kebanggaan yang luar biasa. Ini bagian dari Qadarullah dan kado hadiah di bulan Kemerdekaan RI,” kata Indra.
Single “Lima Tahun” sendiri mengangkat kisah tentang perjalanan panjang seseorang yang merasa perjuangannya selama lima tahun berakhir sia-sia. Berbagai pengorbanan yang diberikan justru meninggalkan luka dan menjadi kenangan pahit.
Ide cerita lagu tersebut berasal dari pengalaman seorang sahabat Indra yang pernah mencurahkan kisah hidupnya. Cerita itu kemudian diterjemahkan Indra ke dalam sebuah lagu dengan karakter pop Melayu.
Indra bukan nama baru dalam perjalanan musik independen. Ia mengawali kiprahnya dengan tampil dari kafe ke kafe sebelum merilis karya secara indie. Ia kemudian sempat bergabung dengan label musik ternama, namun kini memilih kembali membangun karier sebagai musisi independen.
Menurut Indra, perkembangan industri musik digital membuat musisi memiliki peluang lebih besar untuk mengelola karya sekaligus membuka kerja sama dengan berbagai label berdasarkan proyek.
“Berkarya di dunia musik secara independen lebih enak, lebih fair. Apalagi sekarang tren di dunia musik lebih kepada mandiri atau independen. Bukan eranya lagi dikontrak label musik. Mungkin lebih tepatnya saatnya berkolaborasi dengan label musik ternama,” ujarnya.
Pengamat musik Bois Famous Maker menilai pilihan tersebut merupakan bagian dari dinamika industri musik yang terus berubah. Menurutnya, pola kerja sama antara musisi dan label kini semakin fleksibel dan tidak selalu harus melalui kontrak eksklusif.
Sepanjang perjalanan bermusiknya, Indra telah merilis sekitar 50 lagu di berbagai platform musik. Kini, penyanyi kelahiran Tangerang, 29 Maret 1999, tersebut memiliki target untuk memperluas kiprah hingga pasar Asia.
“Saya ingin membuktikan kepada orang tua dan penggemar karya lagu saya selama ini untuk bisa eksis di Indonesia dan luar negeri,” tutur Indra.
Selain bermusik, Indra juga mengembangkan usaha mandiri di bidang workshop periklanan berbasis UMKM. Ia berharap kiprahnya di musik dan dunia usaha dapat terus berjalan beriringan.
Perilisan “Lima Tahun” sekaligus menjadi langkah terbaru Indra untuk memperkuat eksistensinya sebagai musisi independen. Sementara kolaborasi dengan Life Records Malaysia menjadi pintu baru untuk membawa karya dan karakter pop Melayunya ke panggung musik regional.


Tinggalkan Balasan