Femindonesia.com, JAKARTA – Setelah melewati perjalanan panjang di industri musik Indonesia, Tito Soemarsono kembali menghadirkan karya terbaru berjudul “Ketika Ku Termenung”.

Lagu ini menjadi momentum bagi Tito untuk mengeksplorasi warna musik yang sejak lama dekat dengan selera musikalnya, yakni perpaduan pop dengan sentuhan jazz, fusion, dan funk.

“Ketika Ku Termenung” kini telah tersedia di sejumlah platform digital, termasuk YouTube dan Spotify. Bagi Tito, lagu tersebut bukan sekadar rilisan baru. Ada perjalanan panjang yang melatarbelakangi pilihan musikal yang dihadirkannya kali ini.

Sejak awal bermusik, Tito mengaku telah memiliki ketertarikan terhadap jazz fusion dan funk. Namun, ketika mulai masuk ke industri rekaman, ia harus berhadapan dengan tuntutan pasar yang kala itu lebih mengutamakan musik pop dengan karakter ringan dan mudah diterima.

“Memang sudah lama aku ingin warna pop agak jazzy karena memang awalnya aku suka musik jazz fusion funky,” ujar Tito dalam keterangannya, Rabu (2/9).

Ia mengingat bagaimana pilihan musikal pada awal kariernya banyak dipengaruhi oleh pertimbangan label. “Waktu bikin lagu rekaman pertama, label-label maunya pop manis,” kata Tito sembari tertawa.

Tuntutan tersebut menjadi bagian dari perjalanan Tito sebagai musisi. Namanya kemudian ikut mewarnai musik pop Indonesia pada era 1980-an hingga 1990-an.

Sejumlah album seperti Kamu (1986), Pesta Indah (1987), Untukmu (1990), Semoga Kau Tau (1991), Tuhan Tolonglah (1992), dan Selalu (1994) menjadi bagian dari perjalanan panjangnya.

Begitu pula dengan sejumlah lagu yang dikenal publik, di antaranya “Mungkinkah”, “Laguku Milikmu”, “Siapa Kamu”, “Karenamu”, hingga “Mengapa Ada Lagi Bayangmu”.

Namun, di tengah perjalanan tersebut, ketertarikan Tito terhadap jazz fusion dan funk tidak pernah benar-benar ditinggalkan.

Kini, melalui “Ketika Ku Termenung”, Tito memiliki ruang lebih luas untuk menghadirkan warna musik yang lebih personal. Unsur pop masih terasa kuat, tetapi dibalut sentuhan jazzy yang memberikan karakter berbeda.

Karya tersebut seolah menjadi titik temu antara pengalaman panjang Tito di musik pop dengan selera musikal yang telah ia miliki sejak awal.

Perubahan zaman turut memberikan ruang bagi Tito untuk mewujudkan eksplorasi tersebut. Jika pada masa awal karier seorang musisi harus banyak menyesuaikan diri dengan formula industri rekaman, era digital memberikan keleluasaan lebih besar untuk menentukan arah karya.

Karena itu, “Ketika Ku Termenung” dapat dilihat sebagai bentuk kebebasan musikal Tito Soemarsono hari ini.

Ia tidak meninggalkan musik pop yang menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya. Sebaliknya, Tito memperkaya akar tersebut dengan warna jazz, fusion, dan funk yang sejak lama ia cintai. Puluhan tahun setelah memulai perjalanan di industri musik, Tito akhirnya dapat menghadirkan warna yang dahulu hanya menjadi keinginan.

“Ketika Ku Termenung” pun menjadi penanda bahwa perjalanan seorang musisi tidak selalu tentang mengikuti perubahan zaman, tetapi juga tentang menemukan kembali bagian dari diri yang pernah tertinggal di sepanjang perjalanan.