FEM Indonesia, JAKARTA – Satelit Nusantara Lima (Satelit N5) resmi memasuki tahap operasional dan siap dikomersialisasikan setelah sukses diluncurkan dari Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat, pada 12 September 2025. Kehadiran satelit ini menjadi tonggak baru dalam penguatan konektivitas digital nasional sekaligus langkah strategis menuju kedaulatan antariksa Indonesia.
Peresmian operasional Satelit N5 dihadiri Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie, President of Boeing Satellite System International Inc Ryan Reid, serta jajaran pemangku kepentingan industri antariksa nasional.
Satelit N5 digadang menjadi elemen penting dalam memperluas layanan internet berkualitas tinggi, terutama di wilayah Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal (3T). Kehadirannya diharapkan menopang berbagai sektor strategis mulai dari pendidikan, kesehatan, layanan pemerintahan, ekonomi digital, hingga pertahanan dan keamanan.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, mengatakan pemerintah masih menghadapi tantangan dalam pemerataan konektivitas internet nasional. Saat ini, sekitar 80 persen populasi Indonesia telah terhubung dengan layanan internet, sementara sisanya masih membutuhkan akses yang lebih merata.
“Keinginan kami agar 280 juta warga Indonesia bisa terhubung, tidak hanya wilayah dekat Jawa, tetapi juga Sabang, Merauke, Rote, hingga Miangas. Kehadiran Satelit N5 diharapkan menjaga tiga pilar, yakni Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga,” ujar Meutya dalam sambutannya.
Direktur Utama PSN Group, Adi Rahman Adiwoso, menilai beroperasinya Satelit N5 menjadi simbol penting bagi Indonesia dalam memperkuat kemandirian di sektor antariksa sekaligus memperluas pengaruh layanan digital Indonesia di kawasan Asia Tenggara.
Menurutnya, Satelit N5 tak hanya melayani kebutuhan domestik, tetapi juga mampu menjangkau negara tetangga seperti Malaysia dan Filipina. Indonesia saat ini disebut menjadi pemain terbesar industri satelit internet di Asia dengan total kapasitas mencapai 403 Gbps.
“Kami meluncurkan Satelit N5 sebagai bentuk nyata upaya Indonesia untuk terus berperan di panggung global. Dengan kapasitas terbesar di Asia, satelit ini membuka babak baru bagi pengembangan industri antariksa nasional,” kata Adi Rahman.
Satelit N5 mengusung teknologi Very High Throughput Satellite (VHTS) dengan kapasitas mencapai 160 Gbps, menjadikannya satelit terbesar di Asia. Satelit ini dibangun menggunakan platform Boeing 702MP dengan 101 spot beam berbasis frekuensi Ka-band.
Berbobot sekitar 7,8 ton, Satelit N5 juga dibekali sistem propulsi hybrid berbasis kimia dan teknologi Xenon-Ion (XIPS) yang diklaim sepuluh kali lebih efisien dibanding satelit konvensional. Masa operasionalnya dirancang lebih dari 15 tahun.
Untuk mendukung layanan, Satelit N5 ditopang tujuh stasiun bumi yang tersebar di Banda Aceh, Bengkulu, Cikarang, Gresik, Banjarmasin, Tarakan, dan Kupang. Infrastruktur tersebut memungkinkan layanan internet menjangkau wilayah 3T yang selama ini menghadapi keterbatasan akses digital.
Adi Rahman menegaskan teknologi satelit kini menjadi salah satu indikator kekuatan dan kemandirian bangsa dalam menjaga kepentingan strategis nasional.
“Antariksa adalah simbol hak kedaulatan bangsa. Indonesia harus memiliki kemampuan mandiri untuk mengontrol sektor-sektor strategis yang mendukung kepentingan nasional,” tegasnya.
Sementara itu, President of Boeing Satellite System International Inc, Ryan Reid, menyebut keberhasilan Satelit N5 memperpanjang kolaborasi strategis Boeing dengan Indonesia dalam menghadirkan solusi konektivitas berbasis teknologi antariksa.
“Kami bangga menjadi bagian dari perjalanan Satelit N5 dalam menyediakan layanan internet terbaik bagi masyarakat Indonesia, terutama di wilayah yang masih mengalami keterbatasan akses,” ujar Ryan Reid.
Selain meresmikan operasional Satelit N5, PSN juga memperkenalkan layanan internet berbasis satelit terbaru bernama Cerdiq. Produk berupa user terminal tersebut dikembangkan oleh tim Research & Development PSN dengan konsep sederhana dan ringan, serta akan menggunakan konektivitas Satelit N5.
Cerdiq menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat industri dalam negeri melalui optimalisasi Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN), sekaligus meningkatkan daya saing produk nasional di pasar global.
“Kolaborasi seluruh pemangku kepentingan penting untuk membangun ekosistem antariksa nasional demi mencapai space sovereign capability dan mewujudkan Indonesia yang berdaulat di angkasa,” tutup Adi Rahman.


Tinggalkan Balasan