FEM Indonesia – Sunat atau sirkumsisi ternyata memiliki manfaat. Selain kebersihan, juga kesehatan bagi lelaki yang melakukan sunat.
Hal ini pula yang melatarbelakangi keinginan youtuber asal negeri Sakura, Genki untuk disunat. Padahal semula comedian tersebut sempat tidak tahu soal sunat.
“Sebenarnya enggak tahu tentang sunat ya, apakah aman atau tidak. Di Jepang kan sunat jarang. Kebetulan saya sudah 6 tahun di Indonesia. Saya belum coba sunat makanya mau sunat,” ujarnya.
Menjadi salah satu nara sumber di webinar Menelisik Sunat Bagi Pria Dewasa yang diselenggarakan Forum Jurnalis Online, Kamis malam (8/4), Genki pun berusaha mencari tahu mengenai proses serta tehnologi yang dipakai sunat hingga akhirnya menemukan tempat yang tepat.
“Saya sunat di Rumah Sunat Dr. Mahdian pakai alat kayak gun. Awalnya saya pikir sakit. Operasinya enggak sakit. Kirain sakit. Saya juga kaget jika tehnologi sunat Indonesia bagus,” terang Genki yang memberikan alasan kesehatan kepada keluarganya.
Ia juga mengaku merasakan perbedaan usai disunat. Selain mudah dibersihkan jika ada kotoran yang sembunyi, bentuknya menjadi lebih keren. Untuk itu Genki meminta orang-orang dewasa yang belum sunat tidak perlu malu guna mendatangi tempat sunat yang aman dan terpercaya.

“Walau sebelumnya bentuknya keren tapi sekarang jadi lebih keren. Orang Jepang banyak kena penyakit karena kotoran bersembunyi di kulit depan penis sehingga sulit dibersihkan. Saya juga mau bilang ke mereka enggak usah malu untuk disunat. Malah saya bilang ke orang-orang sudah sunat. Sunat itu bagus untuk pasangan. Cewek Jepang juga bilang lebih bersih,” jelas Genki lagi.
Setali tiga uang. Dr Boyke Dian Nugraha mengatakan sunat untuk orang dewasa memiliki dampak positif, semisal mengurangi risiko tertular penyakit menular untuk pasangannya.
“Pria yang tidak disunat, berpotensi terdapat kotoran, bakteri atau virus lainnya di sekitar kepala penisnya. Virus HPV atau Human Papillomavirus itu memicu terjadi penyakit menular seksual (PMS). Nah virus ini dalam kondisi tertentu bisa memicu kanker. Bahkan ada sejumlah pasangan perempuan khawatir jika pasangannya tidak disunat terdapat bakteri Ecoli atau sejenisnya. Jadi sunat atau sirkumsisi selain dari aspek agama dan budaya, juga ada aspek kebersihan dan kesehatan,” papar praktisi kesehatan seksual ternama ini.
Sedangkan Ketua PP Ikatan Ahli Bedah Indonesia (IKABI), Prof. Andi Asadul Islam menyatakan bahwa dalam terdapat beberapa metode dalam melakukan khitan. Seperti konvensional, laser atau electric couter dan klamp.
Disebutkan pula metode khitan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Untuk itu keputusan pengunaan metode khitan yang akan diambil diserahkan kepada pasien. [foto : dokumentasi/denim/teks : denim]


Tinggalkan Balasan