FEM Indonesia, Jakarta – Galeri Indonesia Kaya terasa hangat dan penuh haru, bukan karena cuaca, tapi karena hadirnya pertunjukan teater monolog yang menyuarakan keteguhan hati seorang perempuan: Ibu Siti Walidah, istri dari pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan.

Dengan judul “Aku yang Tak Kehilangan Suara”, Monolog ini tak hanya membawa penonton menyelami sisi sejarah yang sering luput dari sorotan, tapi juga menyentuh dimensi emosi yang sangat manusiawi tentang perjuangan, pengabdian, dan suara seorang perempuan yang tak pernah padam meski zaman terus bergulir.

Diselenggarakan oleh Regina Art dan diperankan oleh Tika Bravani, acara ini merupakan hasil kerja sama dengan Djarum Foundation, menghadirkan sebuah pertunjukan yang sederhana namun kuat. Panggung yang minim properti justru menjadi ruang yang luas bagi sang aktor tunggal Tika Bravani untuk menyalurkan kekuatan narasinya. 

Dalam monolog itu, Siti Walidah tak hanya hadir sebagai tokoh pendamping sang suami, tetapi sebagai sosok pemikir, pendidik, dan pejuang perempuan yang berdiri di garis depan. Penonton dibuat larut dalam dialog batin Siti Walidah tentang keyakinan, keraguan, dan keberanian untuk tetap bersuara di tengah tradisi yang membungkam. Sesekali terdengar isak tertahan di sudut ruangan; pertanda bahwa suara Siti Walidah telah menjangkau hati banyak orang malam itu.

Pertunjukan ini menjadi ruang refleksi, khususnya bagi generasi muda dan pelajar yang hadir. Bahwa sejarah tak selalu ditulis dengan suara yang lantang kadang, justru dengan bisikan yang bertahan paling lama dalam ingatan. Melalui “Aku yang Tak Kehilangan Suara”, Tika Bravani berhasil menghidupkan kembali semangat seorang perempuan yang selama ini hanya tercatat sebagai “istri dari.” Padahal, dalam diam dan langkahnya, ia telah menjadi cahaya bagi banyak perempuan Indonesia. Dan malam itu, suaranya terdengar kembali jelas, tajam, dan tak terlupakan.

Tika Bravani bicara soal proyek yang dimainkan dalam ‘Aku yang Tak Kehilangan Suara’. Ia mengungkapkan hal tersebut begitu menantang dirinya.

“Monolog adalah salah satu tipe permainan yang saya hindari, karena takut mati gaya. Lucunya baru sekarang saya mau, tapi ketika memerankan ini rasanya macam-macam, ada khawatir, percaya diri. Untuk mencapai kualitas yang bagus harus ada proses, jadi ketika dapat monolog ya jalanin saja,” ujar Tika Bravani, di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jum’at (30/5/2025) 

Bintang film Rumah Untuk Alie itu menuturkan mengenai persiapan tampil monolog sudah dilakukan sejak Januari 2025 lalu. Ia tak menyangka akhirnya bisa menghafal semua dialog. Meski diakui ada satu paragraf yang lupa.

“Saya pikir saya ngga bakal hafal, tapi bisa juga. Setiap pagi saya treadmill sambil menghafal, ini untuk menjaga pernapasan juga. Selain itu, peran ini juga sempat terbawa dalam pikiranku,” tuturnya.

Tika juga punya alasan mengapa mengambil proyek teater monolog. Faktor utamanya adalah cerita yang diambil soal Siti Walidah. “Ini sosok yang luar biasa, karena perempuan itu mementingkan perasaan ketimbang logika. Walidah ini kan ketika mendapat kabar ingin dimadu, dia bisa lapang dada, mengesampingkan perasaannya sebagai bentuk syiar, dia juga tetap fokus dengan pendidikan dan peduli kepada masyarakat sekitar,” tandasnya.