FEM Indonesia, Jakarta – Aktris Acha Septriasa membagikan pengalaman unik sekaligus berkesan saat proses syuting film Air Mata Mualaf yang berlangsung di Sydney, Australia.
Dalam press screening di XXI Epicentrum, Jakarta, Rabu (19/11), Acha mengungkapkan bahwa proyek film ini menjadi salah satu pengalaman paling istimewa dalam kariernya.
Tinggal di kawasan Paddington, Acha bukan hanya berfokus pada perannya sebagai pemain. Ia juga turut menjadi “pemandu lokal” bagi kru film karena lokasi syuting berada sangat dekat dengan rumahnya. Pengalamannya pernah berdomisili di Australia membuat Acha mampu membantu tim produksi menemukan lokasi-lokasi yang sesuai kebutuhan pengambilan gambar.
“Karena lokasi syuting dekat banget, selesai syuting malam pun aku tinggal jalan kaki pulang. Jadi tetap bisa ketemu keluarga dan anak setiap hari,” ujar Acha.
Acha juga mengungkapkan rasa bangganya bisa bekerja dengan kru film internasional yang telah memiliki portofolio mentereng. Salah satu yang paling berkesan adalah kru departemen suara yang sebelumnya pernah terlibat dalam produksi film Hollywood Elvis.
“Bisa kerja bareng talenta-talenta hebat dari luar negeri itu pengalaman yang luar biasa. Syutingnya seru dan banyak ilmu baru yang aku pelajari,” tambahnya.
Atmosfer kerja yang hangat, dukungan kru profesional, serta kemudahan akses menuju lokasi membuat proses syuting berjalan lebih praktis dan menyenangkan bagi Acha. Ia menyebut produksi Air Mata Mualaf sebagai salah satu pengalaman paling berwarna sepanjang perjalanan kariernya.
Film berdurasi sekitar dua jam ini diproduksi oleh Merak Abadi Productions dan Suraya Film, dan dijadwalkan tayang pada 27 November 2025. Kisahnya mengangkat tema inspiratif tentang perjalanan spiritual, keberanian, dan pencarian jati diri.
Cerita berpusat pada Anggie (diperankan Acha Septriasa), seorang wanita Indonesia yang menempuh pendidikan di Sydney. Hidup di luar negeri tak selalu indah Anggie justru terjebak dalam hubungan toxic dan menjadi korban kekerasan dari kekasihnya, Ethan (Matthew Williams).
Di tengah keputusasaan, ia bertemu Fatimah (Hana Saraswati), seorang gadis pengurus masjid yang kemudian menjadi cahaya baru dalam hidupnya. Pertemuan itu menjadi titik balik bagi Anggie untuk menemukan arah serta kedamaian dalam perjalanan spiritualnya.


Tinggalkan Balasan