FEM Indonesia – Film horor supranatural berjudul “Rambut Sewu: Satu Langkah Getih” resmi memasuki tahap produksi dan menggelar syukuran bersama media pada Sabtu (14/2/2026).
Syukuran produksi film bersama seluruh pemain film dan awak media digelar di kantor rumah produksi Mika Entertainment, Kota Wisata, Cibubur, Bekasi, Jawa Barat.
Produser Zakir Rasyidin mengatakan bahwa film ada makna di balik judul sekaligus arah kekuatan cerita yang ditawarkan film ini. Menurutnya, judul tersebut merupakan gambaran inti dari konflik yang dialami karakter utama.

“Judul tersebut melambangkan sebuah keputusan kecil yang membawa seseorang masuk ke dalam dunia gelap penuh ritual, kutukan, dan konsekuensi berdarah. ‘Satu langkah getih’ menjadi simbol bahwa satu pilihan yang salah bisa mengubah hidup seseorang selamanya,” kata Zakir
Film menghadirkan kisah tentang pilihan kecil yang berujung pada kutukan berdarah, dengan cerita bertumpu pada ritual, mitos lokal, serta tekanan psikologis yang membayangi tokoh utamanya ketika teror perlahan mengambil alih hidupnya.
Ia menjelaskan, film ini menggabungkan horor supranatural dengan nuansa thriller untuk menghadirkan ketegangan yang tidak hanya mengandalkan kejutan visual, tetapi juga konflik emosional.

Cerita berpusat pada Wulan, perempuan yang pindah ke sebuah desa demi pekerjaan sambil merawat ibunya yang sakit. Ia menyewa rumah tua dengan harga murah tanpa mengetahui sejarah kelam di dalamnya.
Rumah tersebut ternyata berkaitan dengan seorang gadis bernama Marni. Sejak menetap di sana, Wulan mengalami berbagai kejadian ganjil mulai dari mimpi aneh, berjalan saat tidur, hingga muncul luka misterius di tubuhnya.
Teror memuncak ketika terungkap bahwa arwah Marni terikat ritual hitam dan berusaha mengambil tubuh Wulan sebelum 40 hari berakhir. Dalam kondisi terdesak, Wulan dibantu seorang wartawan dan saksi masa lalu untuk memutus kutukan sebelum terlambat.
Zakir menyebut ide cerita lahir dari ketertarikannya pada kisah ritual dan mitos Jawa yang hidup di masyarakat, terutama tentang perjanjian gaib yang selalu menuntut pengorbanan besar. Meski terinspirasi dari berbagai kepercayaan lokal, ia menegaskan film ini merupakan karya original yang dikembangkan menjadi narasi fiksi sinematik.

Sejumlah aktor dipercaya menghidupkan karakter penting, di antaranya Wavi Zihan sebagai Wulan, Taskya Namya sebagai Marni, Yusuf Mahardika sebagai Damar, serta aktor senior Donny Alamsyah sebagai Suradi.
Proses pemilihan pemain dilakukan melalui diskusi panjang antara produser dan sutradara Hanny Saputra, dengan mempertimbangkan kecocokan karakter, kemampuan akting, serta chemistry antarpemain.
“Tantangan terbesar mereka adalah membangun emosi yang intens, terutama pada adegan kerasukan, konflik batin, dan situasi psikologis yang ekstrem,” ujar Zakir.
Sebelum kamera bergulir, para pemain mengikuti reading, diskusi karakter, hingga latihan emosi dan blocking untuk memastikan relasi antar tokoh terasa alami di layar.
Untuk mendukung atmosfer cerita, syuting dilakukan di wilayah Tegal, Wonosobo, dan sekitarnya. Area desa serta hutan dipilih guna memperkuat nuansa mencekam. Namun lokasi terpencil dan faktor cuaca menjadi tantangan tersendiri, ditambah adegan fisik yang cukup menguras energi para pemain.
Dari sisi visual, film ini mengusung pendekatan gelap, atmosferik, dan realistis. Penempatan kamera dibuat intim agar penonton ikut merasakan teror yang dialami karakter. Lewat film ini, Zakir berharap penonton tidak hanya mendapatkan ketakutan, tetapi juga pesan moral. “Film ini ingin menyampaikan bahwa setiap jalan pintas yang ditempuh dengan cara gelap akan menuntut harga yang mahal, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitar,” tegasnya.
Saat ini produksi masih berlangsung. Syuting dijadwalkan dimulai pada 25 Februari dan diperkirakan selesai pada 15 Maret 2026 dengan jadwal yang intensif.


Tinggalkan Balasan