FEM Indonesia, Jakarta – Setelah hampir empat dekade berkarya di industri musik Indonesia, Slank kembali menunjukkan konsistensinya dalam menyuarakan kritik sosial melalui karya musik.
Band legendaris yang bermarkas di Gang Potlot itu resmi merilis album studio ke-26 bertajuk “Republik Fufufafa”, sebuah karya yang langsung menyita perhatian publik.
Album ini menjadi sorotan bukan hanya karena menawarkan eksplorasi musikal yang segar, tetapi juga karena judulnya yang dianggap dekat dengan polemik politik nasional yang ramai diperbincangkan dalam beberapa waktu terakhir.
Sebenarnya, lagu utama berjudul “Republik Fufufafa” telah lebih dulu diperkenalkan kepada publik melalui perilisan singel pada 27 Desember 2025. Namun, Slank baru mengungkap keseluruhan konsep album tersebut pada pertengahan 2026, menghadirkan kejutan bagi para penggemar sekaligus penikmat musik Indonesia.
Vokalis Slank, Kaka, mengungkapkan bahwa proses penulisan lagu dalam album ini berbeda dari kebiasaan mereka sebelumnya. Menurutnya, para personel mengadopsi pendekatan layaknya seorang jurnalis dengan menjadikan berbagai peristiwa dan pemberitaan sebagai bahan utama penulisan lirik.
“Ibaratnya kalau kita punya nada kosong, terus kita baca koran, itu lirik dimasukin ke nada. Seperti itu kita bikin album. Most of the song kayak gitu. Berita-berita yang kita cuplik, kita masukin ke nada-nadanya. Jadi bukan kita mengada-ada. And who knows ya, Fufufafa itu apa atau siapa. Kita gak tahu,” ujar Kaka.
Proses penggarapan album dilakukan secara intens selama Ramadan 2025. Rekaman dimulai di Flat 5 Studio milik gitaris Ridho, sebelum kemudian dilanjutkan di Parah Studio Potlot 14 yang menjadi markas kreatif Slank.
Selama dua pekan, para personel menjalani rutinitas rekaman sejak pagi hingga menjelang waktu berbuka puasa. Momen kebersamaan selama Ramadan disebut turut memberikan energi positif dan memperkuat pesan yang ingin mereka sampaikan melalui lagu-lagu dalam album tersebut.
Dari sisi musikalitas, “Republik Fufufafa” hadir dengan aransemen yang sederhana, lugas, dan tetap mempertahankan karakter slengean yang telah menjadi identitas Slank sejak berdiri pada 1983. Kesederhanaan aransemen itu sengaja dipilih agar pesan sosial yang terkandung dalam setiap lagu dapat tersampaikan secara lebih jelas kepada pendengar.
Melalui album ke-26 ini, Slank kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu kelompok musik yang konsisten merekam realitas sosial dan dinamika kehidupan masyarakat Indonesia ke dalam karya-karya mereka.


Tinggalkan Balasan