FEM Indonesia, Arab Saudi – Bertempat di Kota Riyadh, Arab Saudi, berlangsung konferensi internasional perzakatan atau The Zakat, Tax, and Customs Authority (ZATCA) Conference 2024 yang kali ini bertema Economic Recovery and Growth Amidst Global Challenges.
Event ini dihadiri oleh 5.000 peserta dari 30 negara, termasuk Indonesia diwakili Badan Amail Zakat Nasional (BAZNAS) dipimpin langsung Ketua BAZNAS RI Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA.
Turut mendampingi Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Saidah Sakwan, MA., Sekretaris Utama BAZNAS RI, Dr Muchlis M.Hanafi, Lc, MA, serta Direktur Pengumpulan Badan BAZNAS RI, Faisal Qosim.
Tampil dalam Sesi Panel ke-4 bertema “Comparative Perspectives on Zakat Practices Internationally” pada Rabu malam (4/12/2024), Kiai Noor menjelaskan tentang tipologi manajemen pengelolaan zakat di Indonesia serta target zakat nasional sebesar Rp41 T, peluang dan tantangan, serta keunggulan dan kesuksesan lembaga yang dipimpinnya dalam program penyaluran zakat.
“Kinerja BAZNAS dalam pengelolaan zakat nasional menunjukkan hasil yang positif. Potensi zakat nasional yang mencapai Rp327 triliun diidentifikasi dari berbagai sumber, termasuk zakat pertanian, peternakan, tabungan, pendapatan, dan zakat badan. Pada tahun 2023, penghimpunan zakat mencapai Rp32,32 triliun, dengan proyeksi pengumpulan sebesar Rp41 triliun pada tahun 2024,” ujar Kiai Noor.
Dalam aspek penyaluran, lanjut Kiai Noor, tren pertumbuhan terus meningkat dengan fokus pada program pemberdayaan berbasis zakat. Kinerja ini mencerminkan strategi penghimpunan dan pendistribusian yang efektif, meskipun tantangan untuk meningkatkan keterlibatan muzakki masih menjadi pekerjaan yang perlu dioptimalkan.
Ia mengungkapkan keberhasilan Indonesia menurunkan angka kemiskinan menjadi 25,22 juta jiwa pada Maret 2024, termasuk penurunan kemiskinan ekstrem dari 6,20 persen pada 2014 menjadi 0,83 persen pada 2024, berkat berbagai kebijakan strategis, termasuk optimalisasi dana zakat.
“Zakat dimanfaatkan untuk pendayagunaan ekonomi dan pendistribusian sosial yang terintegrasi dengan kebijakan nasional, didukung Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2022. Pendekatan ini menjadikan zakat sebagai alat redistribusi sekaligus pemberdayaan berkelanjutan, memberikan dampak ekonomi dan sosial signifikan bagi mustahik,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan 10 Program Prioritas Nasional tahun 2025 mencerminkan upaya strategis dalam mendukung kesejahteraan masyarakat melalui pendekatan holistik yang mencakup kesehatan, ekonomi, pendidikan, dan pemberdayaan sosial.
“Program seperti Rumah Sehat BAZNAS dan Rumah Layak Huni berfokus pada peningkatan kualitas hidup mustahik melalui akses kesehatan dan hunian yang layak. Dalam bidang ekonomi, program Microfinance, Z-Chicken, dan Z-Mart memberdayakan mustahik untuk meningkatkan pendapatan dan kemandirian ekonomi melalui akses modal serta pendampingan usaha,” jelasnya.
Dipaparkannya, Santripreneur dan Beasiswa mencerminkan investasi jangka panjang dalam pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan dan wirausaha. Selain itu, program Pengentasan Kemiskinan Ekstrem dan Stunting menargetkan isu-isu mendesak untuk mengurangi angka kemiskinan dan malnutrisi secara signifikan.
“Melalui program Desa/Kampung Zakat dan BAZNAS Tanggap Bencana, kami juga menjangkau komunitas terpencil dan merespons krisis dengan solusi berbasis zakat yang terintegrasi. Pendekatan ini menunjukkan komitmen kami dalam menciptakan dampak berkelanjutan bagi mustahik di seluruh Indonesia,” katanya
ZATCA Conference 2024 ini bertujuan untuk meningkatkan kerja sama internasional dalam bidang Zakat, pajak, dan bea cukai, sekaligus memberikan solusi inovatif untuk tantangan ekonomi saat ini di bidang-bidang tersebut di tengah transformasi digital yang pesat.


Tinggalkan Balasan