FEM Indonesia, Tangerang – Sekian lama menjalani bisnis pengolahan kerang hijau di Kampung Buaran Asem, Desa Tanjung Anom, Mauk, Tangerang, Pudin (45) , kini dapat mengantongi lebih kurang 1 juta rupiah per hari. Namun pendapatan harian ini tidak melulu diraih, apalagi jika ketersediaan bahan baku, cuaca, modal dan fluktuasi hasil tak memadai.

Ditemui belum lama ini, Pudin menceritakan ihwal terjun menjalani usaha kerang hijau setelah sebelumnya menjadi penyelam kerang hijau. Seiring waktu, ia pun merintis untuk mengembangkan pengolahan kerang hijau, mulai merebus, mengupas sampI daging kerang yang diperoleh dapat mencapai tiga hingga lima kuintal, tergantung kondisi kerang, untuk dipasok ke beberapa pasar seperti di Muara Angke, Muara Baru dan Pasar Sentiong.

“Kalau kerangnya gemuk, hasil dagingnya bisa lebih banyak. Tapi kalau sedang kurus, hasilnya sedikit. Dalam dagang seperti ini ada pasang surut,” katanya.

Selain memasok kerang dalam bentuk daging ke pasar, pria berusia hampir setengah abad 45 itu mengatakan juga mengirim ke restoran dalam kondisi masih bercangkang.

Kini Pudin pun telah memiliki 15 bagan atau instalasi konstruksi dari rangkaian bambu dan tali yang ditancapkan di perairan (seperti teluk atau muara) sebagai media buatan, yang dibangun pada 2017 -2018. Namun karena bahan bambu mudah rusak karena ombak, ia mengganti bagan dari galon plastik. Sedangkan untuk panen kerang waktu yang dibutuhkan 5 sampai 6 bulan sejak bibit mulai tumbuh.

Ditambahkan, kerang hijau tidak hanya diperoleh dari 15 bagan yang dimiliki namun juga pasokan dari 9 nelayan lain sehingga dalam satu hari, kerang yang masuk dapat mencapai 100 – 120 karung.

“Kalau sembilan kapal, bisa sekitar 90 karung. Biasanya saya proses paling sedikit 100 karung per hari. Kadang bias sampai 120 karung,” terangnya.

Pudin mengakui walau usaha ini penuh ketidakpastian namun dirinya tetap bertahan. Hal ini karena usaha tersebut tidak hanya menghidupi keluarganya tetapi membuka pekerjaan para ibu di sekitar lokasi. Saat ini ada sekitar 80 ibu-ibu yang terlibat dalam pekerjaan mengupas, membersihkan dan menyortir kerang saat bahan baku tersedia.

“Alhamdulillah, ibu-ibu yang tadinya menganggur jadi punya pekerjaan tambahan. Hasilnya bisa untuk kebutuhan makan, setoran, atau kebutuhan rumah tangga,” katanya. [foto/teks : denim]