FEM Indonesia, Jakarta – Suasana hangat dan penuh makna mewarnai acara buka puasa bersama yang digelar Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Senin (16/3/2026).

Kegiatan ini mempertemukan para seniman, budayawan, hingga pegiat filantropi dalam satu ruang silaturahim lintas bidang.

Salah satu momen yang mencuri perhatian adalah penampilan Neno Warisman yang membacakan puisi karya Mustofa Bisri, atau yang akrab dikenal sebagai Gus Mus. Lantunan puisinya berpadu dengan petikan musik sape oleh Uyung “Mahagenta”, menciptakan suasana yang syahdu sekaligus reflektif.

Tak hanya membacakan karya Gus Mus, Neno juga menyampaikan puisi ciptaannya secara spontan yang menyinggung isu-isu sosial, termasuk kasus kekerasan terhadap aktivis HAM yang sempat viral di media digital. Sebagai penyanyi, ia menghadirkan pembacaan puisi dengan sentuhan vokal musikal yang khas.

“Islam mengangkat dan peduli pada isu kemanusiaan dan kebudayaan. Sebagai pemimpin negeri ini, kita harus tetap bersuara dan membela kemanusiaan,” ujar Neno dalam kesempatan tersebut.

Acara yang dimulai pukul 16.00 WIB ini dihadiri sejumlah organisasi budaya, antara lain Sekretariat Nasional Keris Indonesia (SNKI), Perkumpulan Filateli Indonesia (PFI), dan Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI). Hadir pula insan sastra dari Majalah Horizon yang selama ini dikelola bersama Taufik Ismail.

Panggung sastra menjadi pembuka acara dengan pembacaan puisi oleh Jose Rizal Manua, Nissa Rengganis, dan Abrory Jabbar. Sementara itu, siraman rohani disampaikan oleh Ali An Seun Gun yang menekankan pentingnya silaturahim sebagai fondasi kekuatan umat dan bangsa.

Suasana semakin cair saat komedian Alfiansyah Bustami menyampaikan kultum ringan dengan gaya khasnya yang mengundang tawa, namun tetap sarat makna.

Menjelang waktu berbuka, Taufik Ismail kembali tampil membacakan sejumlah puisinya yang pernah dipopulerkan oleh grup legendaris Bimbo. Momen ini menjadi jembatan emosional antara generasi lama dan muda dalam menjaga denyut sastra Indonesia.

Dalam sambutannya, Fadli Zon menegaskan bahwa tradisi Ramadan di Indonesia seperti buka puasa bersama dan halal bihalal merupakan kekayaan budaya yang unik dan tidak ditemukan di negara lain. Ia menilai tradisi tersebut lahir dari nilai gotong royong dan silaturahim yang kuat.

“Silaturahim seperti ini bukan hanya tradisi, tetapi juga ruang tumbuh bagi peradaban,” ujarnya.

Acara ini juga menghadirkan nuansa haru dengan kehadiran guru dan tenaga pendidik Fadli Zon semasa sekolah di Cianjur, yang menjadi pengingat perjalanan hidup seorang tokoh bangsa.

Menjelang azan magrib, doa dipimpin oleh Ustaz Ramdani atau yang akrab disapa Kubil. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan buka puasa bersama yang semakin mempererat kebersamaan lintas generasi dan latar belakang.

Momentum ini menegaskan bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan, melainkan energi hidup yang terus menyatukan dari puisi hingga doa, dari kenangan hingga harapan.