FEM Indonesia – Industri film Tanah Air kembali mendapat panggung internasional. Sutradara kenamaan Hanung Bramantyo resmi memperkenalkan proyek horor terbarunya bertajuk Bolong: 309 Hari Sebelum Tragedi, sebuah film yang memadukan unsur misteri, sejarah, dan mitologi Nusantara dengan pendekatan sinematografi modern.
Karya ini langsung mencuri perhatian karena dipastikan tayang perdana di International Film Festival Rotterdam (IFFR) 2026, salah satu festival film bergengsi dunia.
Sejak pengumumannya, Bolong menjadi buah bibir di kalangan sinefil. Hanung kembali menghadirkan tema besar dengan pendekatan yang lebih berani, mengambil latar Lubang Buaya era 1960-an. Namun film ini tidak bertujuan menafsirkan ulang sejarah, melainkan mengeksplorasi bagaimana mitos, rumor, dan ketakutan kolektif terbentuk di tengah situasi mencekam masyarakat.
Cerita Bolong dimulai dari serangkaian pembunuhan misterius yang selalu terjadi setiap tanggal 30. Para korban ditemukan dengan pola mengerikan: lubang besar di tubuh mereka. Alih-alih fokus pada sejarah, Hanung menempatkan kekuatan cerita pada imajinasi publik yang selama puluhan tahun dibentuk oleh rumor gaib dan kisah-kisah urban.
“Film ini bukan untuk membuka kembali perdebatan sejarah. Saya ingin mengangkat bagaimana cerita rakyat dan ketakutan masyarakat membentuk persepsi atas sebuah peristiwa,” ujar Hanung.
Diperkuat Para Aktor Muda Berkarakter
Deretan pemain kuat turut menambah daya tarik film ini. Baskara Mahendra, Carissa Perusset, Khiva Iskak, dan Anya Zen tampil sebagai tokoh utama. Carissa yang memerankan karakter sentral mengaku mengalami tantangan besar karena harus menyelami kondisi psikologis yang kompleks dan penuh misteri.
Karakter sentral ini digambarkan mampu membuat penonton terus berspekulasi hingga detik terakhir, menjadikan Bolong sebagai horor investigatif yang lebih mengandalkan atmosfer ketakutan daripada sekadar jump scare.
Visual Suram ala Legenda Urban
Sebagai proyek yang dipersiapkan sejak lama, Bolong hadir dengan desain visual yang memadukan tone film modern dan sentuhan historis. Potongan gambar yang ditampilkan pada konferensi pers memperlihatkan atmosfer gelap khas legenda urban—sebuah nuansa yang ingin dihadirkan Hanung untuk menyatukan sejarah, ketakutan, dan mitos dalam satu ruang cerita.
Melanjutkan Tradisi Menembus Festival Internasional
Tayang di IFFR 2026 menjadi pencapaian besar bagi film horor Indonesia. Ini merupakan karya kedua Hanung yang diputar di festival tersebut setelah Gowok: Kamasutra Jawa. Penonton internasional disebut akan merasakan cita rasa horor khas Nusantara yang berakar dari tradisi dan cerita rakyat lokal.
Setelah debutnya di Rotterdam, Bolong: 309 Hari Sebelum Tragedi dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 2026. Antusiasme publik mulai meningkat setelah perilisan teaser poster yang menampilkan nuansa mencekam tanpa terlalu banyak mengungkap jalan cerita. Strategi promosi minimalis ini justru memicu pembicaraan luas, terutama di komunitas pecinta horor.
Untuk pembaruan terbaru tentang trailer, materi promosi, dan jadwal rilis, penonton dapat mengikuti akun resmi @adhyapictures, @dapurfilm, dan @filmbolong.
Dengan kombinasi mitologi Nusantara, pendekatan visual yang kuat, hingga tajuk horor yang jarang diangkat, Bolong diprediksi menjadi salah satu film Indonesia paling menantang dan paling dibicarakan di tahun 2026. [foto dok. IG @adhyapictures & @filmbolong]


Tinggalkan Balasan