FEM Indonesia, Jakarta – Upaya memasyarakatkan kembali budaya mendongeng dinilai penting dilakukan di tengah masifnya perkembangan dunia digital. Cerita rakyat dan kisah kepahlawanan diyakini mampu menjadi penyeimbang bagi arus informasi digital sekaligus memperkuat karakter generasi muda.
Hal inilah yang melatarbelakangi Tenaga Ahli Kementerian Kebudayaan, Neno Warisman, memprakarsai Focus Group Discussion (FGD) bertema “Gerakan Nasional Cerita Rakyat Berkarakter Berbudaya Membangun Kecerdasan Bangsa melalui Budaya dan Cerita Rakyat.” Kegiatan tersebut digelar di Gedung E Lantai 14 Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Senin (16/3/2026).
Dalam forum tersebut, Neno mengajak para pendongeng dari berbagai daerah di Indonesia untuk memberikan gagasan dan masukan mengenai arah gerakan nasional mendongeng yang tengah dirancang.

“Kita akan membagikan agenda gerakan ini kepada keluarga, masyarakat, hingga ke daerah masing-masing agar budaya bercerita kembali hidup di tengah masyarakat,” ujar Neno.
Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual Kementerian Kebudayaan, Yayuk Sri Budi Rahayu, menambahkan bahwa gerakan tersebut nantinya dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan, termasuk lomba dan festival mendongeng.
Menurutnya, pemerintah hanya berperan sebagai pemantik agar para pegiat dongeng dapat membangun jejaring yang lebih luas “Yang kami undang adalah para pendongeng yang sudah aktif di masyarakat. Pemerintah hanya memantik agar terbentuk jejaring dengan semangat bahwa bercerita merupakan kegiatan yang positif,” kata Yayuk.

Dalam diskusi tersebut, pakar neurosains Amir Zuhdi juga menekankan bahwa kegiatan mendongeng memiliki peran penting dalam perkembangan kecerdasan anak.
Ia menjelaskan, proses bercerita antara orang tua dan anak dapat membantu pembentukan integrasi saraf sensorik pada otak, sehingga mendukung perkembangan kognitif dan emosional anak. “Dongeng adalah cara mudah mencerdaskan anak bangsa. Di dalamnya terbentuk hubungan emosional antara anak dan orang tua sekaligus proses perkembangan korteks otak,” jelas Amir.
Sementara itu, pendongeng Rona Mentari memaparkan contoh kekuatan cerita rakyat yang hidup turun-temurun di masyarakat Simeulue, Aceh. Menurutnya, kisah tentang smong sebutan lokal untuk tsunami yang diwariskan melalui cerita rakyat terbukti menyelamatkan ribuan warga saat bencana tsunami 2004.
“Dari sekitar 78 ribu penduduk, hanya tujuh orang yang menjadi korban karena masyarakat sudah memahami tanda-tanda bencana melalui cerita yang diwariskan turun-temurun,” ujarnya.
Dalam sesi lain, pendongeng Fauzan Al-Rasyid yang dikenal sebagai Kak Ojan menekankan pentingnya kurasi materi dongeng sesuai dengan usia pendengar, mulai dari anak usia dini hingga pelajar sekolah dasar. Menurutnya, tidak semua cerita cocok untuk anak-anak sehingga diperlukan proses seleksi dan inkubasi bagi penulis maupun pendongeng.
“Materi dongeng perlu disesuaikan dengan sasaran usia. Cerita yang mengandung konflik berat tentu tidak cocok untuk anak kecil. Yang terpenting adalah dongeng mampu memberi semangat dan nilai positif,” ujarnya.
Hal senada disampaikan pendongeng Bambang Bimo Suryono atau Kak Bimo yang menilai cerita rakyat tetap perlu mempertimbangkan kearifan lokal sekaligus menghadirkan inovasi agar relevan dengan generasi masa kini.
FGD tersebut diikuti puluhan pendongeng dari berbagai daerah, baik secara daring maupun luring, di antaranya Yusron Muchsin dari Ponorogo, Enik Mintarsih dari Kalimantan Selatan, serta perwakilan pegiat dongeng dari Papua, Yogyakarta, dan sejumlah daerah lainnya.
Hasil diskusi ini nantinya akan menjadi dasar penyelenggaraan berbagai kegiatan seperti lomba, parade, hingga festival dongeng nasional yang diharapkan mampu menghidupkan kembali tradisi bercerita sebagai bagian dari penguatan budaya dan literasi bangsa.


Tinggalkan Balasan