FEM Indonesia, Depok – Komunitas kemanusiaan KULDESAK (Kumpulan Dengan Segala Aksi Kemanusiaan) bersama berbagai komunitas seni, aktivis sosial, dan pegiat kemanusiaan akan menggelar Malam Renungan AIDS Nusantara (MRAN) 2026yang dikolaborasikan dengan peringatan Hari Sastra Buruh Indonesia.
Kegiatan bertema “Light The Legacy” ini akan berlangsung di Markas Seni Margonda 331, Jalan Margonda No. 331-B, Kemirimuka, Beji, Kota Depok, pada Ahad, 31 Mei 2026 pukul 19.00 WIB.
Sejumlah pengisi acara dijadwalkan hadir memeriahkan malam refleksi tersebut, di antaranya Mantra Samsara dan Aji San. Agenda ini menjadi ruang refleksi, solidaritas, sekaligus ekspresi budaya untuk mengenang mereka yang telah berpulang akibat HIV/AIDS.
Selain menjadi momen penghormatan, kegiatan ini juga ditujukan untuk memberikan dukungan kepada Orang dengan HIV (ODHIV) serta memperkuat semangat melawan stigma dan diskriminasi yang hingga kini masih menjadi tantangan dalam penanggulangan HIV di Indonesia.
Malam Renungan AIDS Nusantara merupakan bagian dari gerakan sosial dan kemanusiaan yang setiap tahun diperingati di berbagai wilayah Indonesia sebagai bagian dari semangat International AIDS Candlelight Memorial. Tradisi ini menghadirkan simbol harapan melalui penyalaan lilin, refleksi bersama, testimoni, doa, pertunjukan seni, hingga berbagai bentuk ekspresi kemanusiaan lainnya.
Ketua penyelenggara, Rano Putera Samudera, mengatakan kolaborasi isu HIV/AIDS dengan sastra buruh menjadi bentuk pertemuan dua perjuangan yang sama-sama berbicara tentang kemanusiaan, martabat, dan hak hidup tanpa diskriminasi.
“Melalui cahaya lilin, puisi, musik, dan ruang perjumpaan, kita ingin mengingat mereka yang telah pergi, menguatkan mereka yang masih berjuang, serta mengajak masyarakat untuk membangun empati dan kesadaran bersama. Cahaya yang dinyalakan malam itu adalah simbol harapan yang harus terus dijaga,” ujarnya.
Kegiatan juga akan menghadirkan orasi perjuangan oleh Wido Pratikno yang akan membahas pentingnya solidaritas sosial, perjuangan kemanusiaan, dan penguatan gerakan masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan kesehatan serta ketidakadilan sosial.
Rangkaian acara meliputi pembacaan puisi, orasi, pertunjukan musik, sesi berbagi pengalaman (sharing session), refleksi kemanusiaan, hingga prosesi Candle Light Memorial. Dalam prosesi tersebut, peserta akan menyalakan lilin secara bergantian sebagai simbol penghormatan, harapan, serta komitmen untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih inklusif bagi semua.
Momentum ini juga menjadi pengingat bahwa HIV bukan semata persoalan kesehatan, melainkan juga berkaitan dengan hak asasi manusia, akses layanan kesehatan, pendidikan, hingga penerimaan sosial.
Melalui kolaborasi gerakan kemanusiaan, komunitas seni, aktivis HIV, pekerja, dan masyarakat umum, KULDESAK berharap Malam Renungan AIDS Nusantara 2026 dapat menjadi ruang bersama untuk memperkuat solidaritas, merawat ingatan, sekaligus menyalakan harapan menuju masa depan yang lebih adil dan manusiawi.


Tinggalkan Balasan