Femindonesia.com, JAKARTA – Menteri Perindustrian RI Agus Gumiwang Kartasasmita resmi membuka Indo Leather & Footwear Expo (ILF) 2026 dan Indo Garment & Textile Expo (IGT) 2026 di Hall C3 JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Pameran internasional yang berlangsung hingga 7 Agustus 2026 itu menjadi wadah strategis memperkuat daya saing industri kulit, alas kaki, garmen, dan tekstil nasional menuju pasar global.
Pembukaan pameran dihadiri Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil Kementerian Perindustrian Taufiek Bawazier, Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) Anton J. Supit, Ketua Umum Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI) Budi Purwoko, perwakilan Asosiasi Garment dan Tekstil Indonesia (AGTI), CEO PT Kristamedia Pratama Daud D. Salim, Chief Marketing Officer PT Kristamedia Pratama Christina Sudjie, perwakilan kementerian dan lembaga, asosiasi industri, akademisi, pelaku usaha, duta besar negara sahabat, serta media.

Dalam sambutannya, CEO PT Kristamedia Pratama Daud D. Salim mengatakan penyelenggaraan ILF yang memasuki edisi ke-19 dan IGT edisi ke-13 menunjukkan konsistensi Indonesia sebagai salah satu pusat penyelenggaraan pameran industri manufaktur di kawasan Asia.
Menurut Daud, tahun ini pameran diikuti 210 perusahaan dari 14 negara, yaitu Bangladesh, China, Hong Kong, India, Indonesia, Italia, Jerman, Korea Selatan, Pakistan, Singapura, Spanyol, Taiwan, Uni Emirat Arab, dan Vietnam. Selain itu, sekitar 50 pelaku UMKM industri alas kaki dari berbagai daerah di Indonesia turut berpartisipasi.
Berbagai inovasi dipamerkan mulai dari produk kulit, alas kaki, garmen, bahan baku, aksesori, mesin produksi, teknologi otomatisasi, hingga solusi manufaktur modern untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas industri. Sejumlah agenda pendukung juga digelar, seperti seminar industri tekstil, forum manufaktur alas kaki, business matching, hingga fashion show yang melibatkan sekolah dan desainer.

“Melalui pameran ini kami berharap Indonesia menjadi pusat pertemuan produsen, eksportir, importir, dan buyer dari dalam maupun luar negeri sehingga mampu memperkuat industri kulit, alas kaki, garmen, dan tekstil nasional,” ujar Daud.
Sementara itu, Ketua Umum APRISINDO Anton J. Supit menegaskan industri alas kaki merupakan salah satu sektor manufaktur strategis yang memiliki kontribusi besar terhadap penciptaan lapangan kerja, peningkatan ekspor, dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia menilai peluang Indonesia untuk memperbesar pangsa pasar dunia masih sangat terbuka, didukung pasar domestik yang besar dan implementasi berbagai perjanjian perdagangan internasional.
Anton juga mendorong pemerintah memperkuat ekosistem industri melalui penyederhanaan regulasi, peningkatan akses pasar, pengembangan industri kecil dan menengah (IKM), serta penguatan rantai pasok nasional dari hulu hingga hilir.

“Kami optimistis industri alas kaki Indonesia dapat kembali berjaya dengan dukungan kebijakan pemerintah, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta kolaborasi yang semakin erat antara pemerintah dan dunia usaha,” katanya.
Dalam arahannya, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan pemerintah memberikan perhatian besar terhadap industri tekstil, produk tekstil, kulit, dan alas kaki karena merupakan sektor padat karya yang menjadi salah satu penggerak utama manufaktur nasional.
Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), Agus menyebut potensi pasar alas kaki nasional mencapai sekitar Rp290 triliun per tahun. Pemerintah berkomitmen memastikan potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh industri dalam negeri sekaligus menjaga daya beli masyarakat.
“Hari ini kita berkumpul bukan sekadar membuka sebuah pameran, tetapi menegaskan keyakinan bahwa industri tekstil, kulit, dan alas kaki bukan industri masa lalu, melainkan industri masa depan Indonesia,” ujar Agus.
Ia mengungkapkan sektor manufaktur Indonesia pada triwulan I 2026 tumbuh 5,04 persen dengan kontribusi sekitar 19 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Sementara itu, industri tekstil, pakaian jadi, dan alas kaki saat ini menyerap lebih dari 3,8 juta tenaga kerja.
Menurut Agus, ekspor sektor kulit dan alas kaki juga terus menunjukkan tren positif. Investasi di sektor tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, sedangkan industri alas kaki mencatat surplus perdagangan yang mencerminkan meningkatnya daya saing produk Indonesia di pasar internasional.
Dalam kesempatan tersebut, Agus menyampaikan tiga arahan utama kepada pelaku industri. Pertama, industri harus naik kelas melalui modernisasi mesin, pemanfaatan teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan desain produk, serta penerapan industri hijau yang berkelanjutan.
Kedua, pelaku usaha diminta lebih agresif memanfaatkan berbagai perjanjian perdagangan internasional untuk memperluas ekspor dan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.
Ketiga, seluruh pelaku industri diharapkan memperkuat kolaborasi rantai pasok nasional, mulai dari industri penyamakan kulit, produsen bahan baku, tekstil, hingga produsen alas kaki dan garmen agar tercipta ekosistem industri yang lebih kuat.
Agus juga meminta asosiasi industri terus menjalin komunikasi aktif dengan Kementerian Perindustrian guna menyampaikan berbagai tantangan di lapangan sehingga pemerintah dapat menghadirkan solusi yang cepat melalui koordinasi lintas kementerian.
Ia berharap penyelenggaraan ILF Expo 2026 dan IGT Expo 2026 mampu menghasilkan transaksi bisnis, kontrak dagang baru, investasi, serta alih teknologi yang semakin memperkuat daya saing industri nasional.
“Pameran ini harus menjadi bukti bahwa industri kulit, alas kaki, garmen, dan tekstil Indonesia merupakan penggerak nyata manufaktur nasional serta mampu menjadikan Indonesia sebagai simpul strategis dalam rantai pasok industri dunia,” tegasnya.
Mengakhiri sambutannya, Agus secara resmi membuka penyelenggaraan ILF Expo 2026 dan IGT Expo 2026.
Selama tiga hari pelaksanaan, pameran menghadirkan ratusan perusahaan dari berbagai negara yang menampilkan teknologi, mesin, bahan baku, produk jadi, hingga solusi manufaktur modern.
ILF Expo 2026 dan IGT Expo 2026 diharapkan menjadi katalis dalam meningkatkan investasi, memperluas pasar ekspor, mendorong inovasi industri, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat industri kulit, alas kaki, garmen, dan tekstil yang kompetitif di tingkat global.


Tinggalkan Balasan