Femindonesia.com, JAKARTA — Budayawan, aktor dan Penulis Skenario Eddie Karsito menyoroti pentingnya penguatan cerita dan identitas budaya dalam perkembangan perfilman Indonesia, khususnya genre horor.
Hal itu disampaikan Eddie dalam Pekan Diskusi Film Indonesia 2026 hari keempat di PT. Produksi Film Negara Heritage (PFN), Jakarta Timur, Kamis (13/8/2026). Dalam diskusi bertajuk “Mencari Jalan Pulang: Napak Tilas Identitas Sinema Horor Indonesia”, Eddie menyebut film merupakan perpaduan antara karya seni dan industri.
Dalam diskusi film tersebut juga menghadirkan pembicara Sutradara dan Ketua PPSSI Wahyu Nugroho, Aktor Film dan Penulis Skenario Eddie Karsito, Artis Karina Icha dan Penyanyi Duo Detania.

Menurutnya, popularitas film horor Indonesia tidak terlepas dari kedekatannya dengan mitos, legenda, serta budaya lokal. Tradisi tersebut telah berlangsung sejak era Hindia Belanda dan berkembang hingga era modern, termasuk setelah hadirnya Jelangkungpada 2001.
Namun, Eddie menilai kemajuan teknologi perfilman belum selalu diikuti kekuatan naskah. Peningkatan kualitas kamera, CGI, tata artistik, dan suara dinilai perlu berjalan seiring dengan plot yang logis, karakter yang kuat, serta dialog yang natural.
Ia juga menyoroti penggunaan bahasa dan dialek daerah dalam film horor. Kurangnya riset budaya dan sosiolinguistik dapat membuat dialog terasa tidak natural dan berisiko mereduksi tradisi lokal sekadar menjadi elemen jump scare.
“Roh film yang sesungguhnya tidak semata-mata terletak pada kemegahan alat atau mahalnya biaya produksi, melainkan pada kejujuran rasa, daya hidup cerita, dan hubungan emosional antara karya dengan penontonnya,” ujar Eddie.
Ia menegaskan film bukan hanya hiburan, tetapi juga produk budaya yang dapat merefleksikan nilai, etika, norma, dan kehidupan masyarakat.
Karena itu, menurut Eddie, penguatan cerita dan pemahaman terhadap budaya lokal menjadi kunci agar perkembangan teknis perfilman Indonesia tetap memiliki identitas dan mampu membangun hubungan emosional dengan penonton.


Tinggalkan Balasan