FEM Indonesia, Jakarta — Di tengah maraknya film horor serius yang mendominasi bioskop Tanah Air, rumah produksi Radepa Black bersama Atlas Picture menghadirkan alternatif hiburan lewat film horor-komedi berjudul Setannya Cuan.
Film ini sebelumnya dikenal dengan judul Djoerig Salawe, sebelum akhirnya resmi bertransformasi dan diumumkan ke publik pada Jumat (23/1).
Pengumuman perubahan judul tersebut dilakukan bersamaan dengan peluncuran poster, trailer, serta original soundtrack (OST) film Setannya Cuan di CGV FX Sudirman, Jakarta. Transformasi judul ini disebut bukan sekadar strategi pemasaran, melainkan sebuah pernyataan kreatif sebuah “surat cinta” bagi penonton yang tumbuh besar bersama tradisi horor-komedi khas Indonesia.

“Dulu Djoerig Salawe (Setan Dua Lima), sekarang Setannya Cuan. Karena di dunia ini, yang lebih menakutkan dari setan cuma satu: nggak punya cuan,” tulis pernyataan resmi tim produksi dengan nada satir.
Ide cerita film ini lahir dari pengamatan terhadap fenomena nyata di masyarakat, di mana tekanan ekonomi sering kali mendorong orang menempuh jalan pintas yang tak masuk akal, termasuk melalui praktik klenik dan kepercayaan mistis.
“Setannya Cuan memang diadaptasi dari peristiwa nyata tentang obsesi terhadap angka keberuntungan. Kami ingin memotret bahwa di balik keriuhan komedinya, ada potret jujur bagaimana ‘cuan’ bisa mengubah perilaku manusia hingga berurusan dengan dunia gaib,” ujar dr. Robby Hilman Maulana, Produser Eksekutif sekaligus penggagas cerita.

Mengambil inspirasi dari mitos angka salawe (dua puluh lima), film ini menghadirkan kritik sosial dengan balutan humor dan horor, sekaligus mengajak penonton menertawakan ketakutan yang dekat dengan keseharian.
Produser Avesina Soebli dan Aris Muda menegaskan bahwa Setannya Cuan ingin mengembalikan pengalaman menonton film horor yang bersifat kolektif dan penuh kebersamaan.
“Kami ingin penonton bisa berteriak kaget, lalu sedetik kemudian tertawa terpingkal bersama orang di sebelahnya. Ini hiburan yang jujur, dekat dengan keseharian, dan sangat Indonesia,” kata Avesina.
Hal senada disampaikan sutradara Sahrul Gibran dan Jay Sukmo. Menurut mereka, judul Setannya Cuan mencerminkan realitas masyarakat modern yang kerap terjebak di antara tradisi mistis dan tuntutan ekonomi.

“Dalam film ini, setan bukan cuma peneror, tapi bagian dari ekosistem ambisi manusia. Kadang isi dompet kosong jauh lebih horor daripada penampakan di pohon beringin,” ujar Sahrul.
Sinopsis Singkat
Setannya Cuan mengisahkan dua jawara kampung, Adang (Joe P Project) dan Asep (Anyun Cadel), yang bersaing memperebutkan kursi lurah, kekuasaan, dan cinta seorang janda muda bernama Mince (Nadine Alexandra).
Ironisnya, kemenangan Adang justru membawa kehancuran. Ia bangkrut dan ditinggal istri, sementara Asep hidup bergelimang harta. Rahasia kekayaan Asep terungkap lewat Ujang (Fico Fachriza), yang menyebut Asep selalu menang judi togel berkat bantuan dukun Rojan (Candil).

Namun, pesugihan itu menuntut syarat kelam: kematian, pencurian batu nisan, dan perjanjian gaib. Sejak saat itu, kampung pun dilanda kegemparan. Warga berbondong-bondong mengejar kekayaan instan lewat berbagai praktik mistis dari pocong, tuyul, hingga babi ngepet.
Film Setannya Cuan dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia pada 5 Maret 2026, bertepatan dengan bulan Ramadan. Kehadirannya diharapkan menjadi hiburan alternatif yang mengajak penonton tertawa berjamaah di tengah tren film horor yang lebih serius.
Film ini dibintangi Nadine Alexandra, Joe P Project, Fico Fachriza, Dimas Andrean, Anyun Cadel, Candil, Ben Kasyafani, Mega Carefansa, Gabriella Desta, Mongol Stres, Aming, dan Budi Dalton.
Setannya Cuan juga menjadi karya penuh makna sebagai bentuk penghormatan dan kenangan mendalam bagi komika almarhum Babe Cabita.


Tinggalkan Balasan