Femindonesia.com, JAKARTA – Aktris Zaskia Adya Mecca mengungkap keprihatinannya terhadap kondisi warga yang masih mengungsi akibat rentetan bencana alam di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Keprihatinan tersebut disampaikan Zaskia setelah tim relawan yang ia terjunkan memantau langsung kondisi di sejumlah titik pengungsian. Setidaknya ada tiga posko bantuan yang menjadi lokasi pemantauan timnya.
Menurut Zaskia, persoalan yang dihadapi para pengungsi bukan hanya keterbatasan makanan dan kebutuhan sehari-hari. Akses terhadap tenaga medis serta obat-obatan juga menjadi kebutuhan yang sangat mendesak.
“Obat, dokter, itu yang paling ini. Kemarin timku datang ke titik yang di Embai, baru sampai tiba-tiba ada ibu bawa anaknya tiga tahun panas tinggi dan lagi kejang karena nggak ada obat penurun panas di sana,” ujar Zaskia kepada awak media di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Zaskia kemudian menceritakan pengalaman memilukan yang dialami tim relawannya. Seorang balita disebut datang ke posko dalam kondisi demam tinggi hingga mengalami kejang.
Namun, obat penurun panas yang dibutuhkan tidak tersedia di lokasi. Kondisi sang anak kemudian semakin memburuk hingga akhirnya meninggal dunia.
“Anaknya meninggal di tempat kita, di posko kita. Terus temanku telepon itu nangis yang kayak, ‘Kita telat, kita telat’. Padahal dia cuma butuh paracetamol ya, tapi memang sudah takdir,” tutur Zaskia.
Pengalaman tersebut membuat Zaskia semakin menyoroti pentingnya dukungan medis bagi para korban bencana. Ia berharap bantuan yang diberikan kepada pengungsi tidak hanya berfokus pada makanan dan logistik, tetapi juga mencakup dokter serta persediaan obat-obatan.
Selain minimnya layanan kesehatan, Zaskia juga mengungkap kondisi cuaca yang harus dihadapi para pengungsi. Sejumlah lokasi pengungsian berada di wilayah dataran tinggi. Pada malam hari, suhu disebut dapat turun hingga 8-9 derajat Celsius.
Situasi tersebut menjadi tantangan bagi warga yang harus tinggal di tenda dengan perlengkapan tidur yang terbatas.
“Ternyata pas malam di sana itu tahu nggak, 8 sampai 9 derajat. Sedangkan semua relawan datang ya bayangannya kan panas, jadi cuma pakai baju kaus atau rompi, pas sampai sana mereka kedinginan banget,” ungkapnya.
Kondisi pengungsi juga semakin berat karena masih adanya gempa susulan yang disebut terjadi cukup sering. Warga harus beristirahat di dalam tenda sambil menghadapi cuaca dingin dan rasa trauma akibat bencana.
“Bayangin nggak, tidur di tenda suhunya 8 sampai 9 derajat, gempanya per 30 menit sekali. Itu berat banget yang dilewatin di sana,” pungkas Zaskia Adya Mecca.
Melalui keterlibatan tim relawan tersebut, Zaskia berharap perhatian publik terhadap kondisi para pengungsi di Flores terus terjaga, terutama untuk memenuhi kebutuhan medis dan perlindungan warga yang masih berada di pengungsian. [foto dok: instagram zaskiaadyamecca].


Tinggalkan Balasan