Femindonesia.com, JAKARTA — Batik tak lagi sekadar dipandang sebagai bahan untuk menciptakan busana. Di tangan desainer Ivan Gunawan, wastra Nusantara diolah menjadi karya seni yang memadukan tradisi, kreativitas, dan estetika fashion modern.

Gagasan tersebut diwujudkan melalui pameran “Nusanova 2.0: Sekar Jagat”, yang menghadirkan pengalaman berbeda dalam menikmati karya fashion. Alih-alih hanya menampilkan koleksi di atas runway, Ivan Gunawan menyusun pameran sebagai sebuah perjalanan visual yang mengajak pengunjung melihat proses kreatif di balik setiap rancangan.

Pengunjung diajak menelusuri berbagai tahapan, mulai dari pencarian inspirasi motif, pemilihan material, hingga proses mengolah kain tradisional menjadi busana couture yang memiliki nilai artistik sekaligus makna budaya.

Salah satu sorotan utama dalam pameran tersebut adalah batik Sekar Jagat dari Pamekasan, Madura. Motif yang dikenal memiliki kekayaan warna dan komposisi visual dinamis itu diterjemahkan Ivan Gunawan ke dalam siluet modern dengan karakter tegas, feminin, dan elegan.

Perpaduan unsur tradisional dengan estetika kontemporer membuat karya-karya yang ditampilkan terasa dekat dengan generasi masa kini. Namun, transformasi tersebut tetap mempertahankan identitas budaya yang melekat pada batik.

Bagi Ivan Gunawan, perkembangan fashion tidak seharusnya membuat warisan budaya kehilangan akar. Sebaliknya, tradisi harus terus diberi ruang untuk berkembang agar tetap hidup dan relevan.

Ia juga memandang fashion sebagai medium yang dapat digunakan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat secara lebih luas.

“Saya ingin menunjukkan bahwa fashion juga memiliki peran penting dalam pendidikan dan kebudayaan. Karena itu, pameran ini saya buka untuk masyarakat secara gratis, sehingga siapa pun dapat datang, melihat, belajar, dan menemukan inspirasi dari karya-karya yang ada,” ungkap Ivan Gunawan.

Keputusan membuka pameran secara gratis menjadi bagian dari upaya menjadikan fashion dan seni sebagai ruang yang lebih inklusif. Masyarakat dari berbagai latar belakang dapat menikmati karya sekaligus memperoleh pengalaman dan pengetahuan mengenai proses kreatif di balik pengolahan wastra Nusantara.

Gagasan tersebut mendapat apresiasi dari Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon. Ia menilai kreativitas para desainer memiliki peran strategis dalam memperkuat hilirisasi budaya Indonesia.

Menurut Fadli, kain tradisional seperti batik memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif sekaligus menjadi sarana memperluas pengaruh budaya Indonesia di tingkat global.

“Budaya berada di hulu, lalu ekonomi kreatif dan pariwisata berada di hilir. Kita perlu melakukan hilirisasi budaya kita, salah satunya melalui tangan-tangan para perancang busana. Para perancang busana bisa membawa kain tradisional kita, termasuk batik, ke tengah-tengah peradaban dunia,” ujar Fadli Zon.

Melalui “Nusanova 2.0: Sekar Jagat”, Ivan Gunawan menunjukkan bahwa batik dapat hadir dalam berbagai bentuk tanpa harus kehilangan identitasnya. Dari selembar kain tradisional, lahir busana couture sekaligus karya seni yang membawa pesan tentang pentingnya menjaga dan mengembangkan warisan budaya Indonesia.