FEM Indonesia — Setelah film Gereja Setan, sutradara Daniel Tito Pakpahan kembali menghadirkan karya terbarunya berjudul Jangan Seperti Bapak. Film bergenre drama keluarga dan thriller kriminal ini dijadwalkan tayang mulai 12 Februari 2026.
“Film ini berkisah tentang keluarga yang kelam, dibalut konflik dan pencarian kebenaran yang intens,” ujar Daniel Tito.
Diproduksi Jayashree Movie dan Amazing Grace, film ini mengangkat isu premanisme serta maraknya judi online yang belakangan menghinggapi masyarakat. Cerita berpusat pada Angel (Zee Asadel) yang tepat di ulang tahunnya ke-20 harus menghadapi kematian tragis sang ayah, Pablo (Verdi Solaiman), seorang bos gangster.
Berusaha mengungkap siapa pembunuh ayahnya, Angel terseret dalam konflik dua geng berbahaya — Red Dragon dan South Wild. Hidupnya semakin terguncang ketika rahasia kelam masa lalu mulai terkuak. Dalam perjalanan tersebut, ia dihadapkan pada dilema batin sekaligus kenyataan pahit untuk melawan warisan kelam keluarganya.
Dalam film ini, Zee Asadel menjalani adegan laga setelah mendapat pelatihan khusus dari Max Metino, yang juga ikut bermain. Ia terlibat perkelahian dengan karakter Sisca (Aulia Sarah), Bara (Donny Damara), dan Vincent (Zack Lee).
“Saya melakukan pendekatan realistis tanpa pemeran pengganti,” kata Zee Asadel.
Max Metino mengaku kagum dengan perkembangan Asadel selama latihan, terutama dalam adegan yang menyerupai pertarungan MMA.
“Asadel punya dasar fisik yang bagus karena terbiasa dance. Dalam sebulan latihan serius, persiapannya sangat cepat,” ujarnya.
Ketegangan yang dibangun sepanjang film membuat durasi 100 menit terasa mengalir tanpa membosankan. Selain deretan pemain utama, film ini juga diramaikan oleh Irwan Chandra, Justinus Lhaksana, Mongol Stres, Yan Widjaya, Arul Muchsen, dan lainnya. Akting Verdi Solaiman serta Donny Damara disebut menjadi salah satu kekuatan film.
Produser Nico Rosto mengatakan film ini akan dipromosikan melalui gala premiere di sejumlah kota di luar Jakarta menjelang Hari Kasih Sayang, 14 Februari 2026, sebagai upaya mendorong minat menonton film nasional.
“Geliat ini harus terus dirawat agar film nasional bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” ujar Nico optimistis.


Tinggalkan Balasan