FEM Indonesia – Kendati tiap 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional namun menyiapkan sumber daya manusia seyogyanya dilakukan sejak dini hari. Semisal dengan imunisasi. Hal ini yang dijalani Julia Rossie. Menurut artis peran itu pemberian vaksin imunisasi secara rutin sudah menjadi tanggung jawab orang tua terhadap anak. Sehingga orang tua tahu akan tumbuh kembang anak. Terlebih sekarang, tempat untuk imunisasi mudah dan terjangkau.
“Penyiapan sumber daya manusia harus dimulai dari sejak dini. Mulai dalam kandungan sampai umur 3 tahun kemudian 5 tahun. Setiap bayi harus diberikan vaksin lengkap sesuai petunjuk kesehatan dan orang tua harus punya waktu untuk mengontrol dan tumbuh kembang sesuai standard kesehatan. Sekarang sudah lebih mudah untuk melakukan imunisasi, periksa kesehatan dan tumbuh kembang bayi atau balitanya di posyandu, puskesmas serta ada kartu sehat dari pemerintah,” jelasnya kepada Femindonesia.com.
Walau informasi manfaat imunisasi bagi anak telah disosialisasikan namun masih ada sebagian orang tua yang menganggap pemberian vaksis imunusasi kurang atau bahkan tidak penting. Julia menilai hal tersebut terjadi karena informasi yang diberikan masih belum sampai kepada semua lapisan masyarakat.
“Anggapan kurang pentingnya imunisasi sehingga ibu atau orang tua tidak melakukan itu untuk anaknya, mungkin pertama, ketidaktahuan orang tua manfaat imunisasi. Kedua, masyarakat tidak peduli karena khawatir harus bayar. Kedua hal ini menurut saya bisa ditanggulangi dengan program kampanye oleh pemerintah/kementerian kesehatan,” sambung ibu dari Lalu Avicenna Kawakibi Rabiul Awal ini.
Sebab itu peran pihak terkait untuk menyadarkan masyarakat tentang pentingnya imunisasi agar digalakkan secara kontinyu. Bahkan jika perlu orientasi kementerian kesehatan yang selama ini seolah hanya mengurusi orang sakit diubah.
“Kemenkes harus mampu membuat keluarga sadar sehat dan jadi dokter dirinya sendiri. Tentu dengan mengorientasikan kementerian kesehatan itu bukan lagi kementerian orang sakit tapi membuat setiap keluarga punya pengetahuan dasar mengenai kesehatan,” ucap Julia.
“Peran dari orientasi klinik harus diubah ke orientasi keluarga dan masyarakat dengan menjadikan kementerian kesehatan menjadi public health. Artinya, produsen orang sehat bukan lagi menteri kesehatan atau kementerian kesehatan tetapi orang atau keluarga itu sendiri,” lanjutnya.
Selain itu secara internal kementerian kesehatan juga harus berubah seiring dengan perkembangan zaman.
“Perubahan paradigma atau transformasi harus ada. Dengan demikian strategi dan orientasi kerjanya berubah. Baru kita bisa berharap tidak ada lagi keluarga yang menganggap imunisasi atau memelihara kesehatan dan tumbuh kembang anak itu tidak penting atau tidak mempunyai pengetahuan dasar sama sekali,” imbuh isteri Lalu Tjuck Sudarmadi. [foto : dokumentasi/teks : denim]


Tinggalkan Balasan