FEM Indonesia, Depok – Ikut memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 2024 9 Februari 2024, Calon Legislatif (Caleg) Partai Golkar, untuk DPR RI, Nofel Saleh Hilabi bersilahturahmi ke Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Depok.

Dalam kunjungan, Nofel yang juga sebagai pengusaha muda bernazar akan mewakafkan dirinya dan bertekad untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat dan Wartawan Indonesia jika ia duduk di gedung DPR RI. Katanya, terjun dalam dunia politik untuk memanusiakan manusia!

Nofel yang datang dari Partai Golkar Dapil Kota Depok-Kota Bekasi Nomor Urut 3, juha bernazar, tidak akan mengambil gaji serta tunjangannya apabila terpilih menjadi anggota DPR RI dalam Pemilu mendatang. Uang itu akan dikembalikan kepada masyarakat melalui sejumlah program.

“Kalau saya terpilih, tak satu rupiah pun gaji dan tunjangan saya ambil. Saya akan kembalikan uang gaji dan tunjangan untuk Kota Bekasi dan Depok dalam bentuk program. Saya wakafkan diri saya di dunia politik. Saya enggak butuh itu karena saya sudah punya bisnis yang cukup untuk kehidupan dan kebutuhan saya,” tegas Nofel Saleh Hilabi di kantor PWI Kota Depok, Jumat (09/02/2024).

Nofel dan Ketua PWI Depok, Rusdy Nurdiansyah

Nofel juga berjanji dan siap teken surat perjanjian kepada PWI Depok, untuk memperjuangkan kesejahteraan para wartawan, karena menurutnya pemerintah tidak pernah peduli sama sekali kepada parq wartawan yang telah lulus uji kompetensi. “Keberadaan wartawan sangat dibutuhkan di sebuah negara sebagai pilar keempat demokrasi. Kalau dibutuhkan wartawan dipanggil, setelah tidak dibutuhkan tak ada yang peduli lagi. “Wartawan yang telah lulus uji kompetensi wajib mendapat penghargaan dan tunjangan kompetensi dari Pemerintah . Tidak ada korelasinya tunjangan itu dengan indepedensi wartawan. Itu alasan klasik,” paparnya.

Pria ganteng yang pernah menjadi pemain sinetron ini, dirinya akan mendesak Dewan Pers atau PWI Pusat agar tidak hanya mengatur kode etik profesi saja, tapi juga memperjuangkan kesejahteraan wartawan.

“Semua profesi mendapat tunjangan kompetensi. Dan, tentu wartawan yang sudah lulus Uji Kompetensi Digital (UKW) jika mendapat tunjangan akan lebih bergairah menghasilkan karya-karya produk pers yang berkualitas dan profesional. Perlu juga karya jurnalistik itu mendapat royalty, seperti musisi,” jelasnya.

Sementara Kota Bekasi dan Kota Depok yang merupakan Dapilnya kata pria yang ngga mau obral janji sebagai caleg, memiliki banyak talenta muda nan kreatif. Sehingga, dia berencana mendirikan creative hub yang bisa diakses secara gratis untuk menyalurkan kreativitas yang dilengkapi fasilitas berupa coworking, office space, layanan pengurusan usaha, notaris, dan jasa promosi yang bisa membantu para calon atau pebisnis muda.

“Anak muda di sana enggak punya tempat yang namanya creative hub sebagai tempat mereka untuk mengembangkan dan memaksimalkan kreativitas. Saya sudah bikin konsepnya,” bebernya.

Nofel juga menyoroti pendidikan yang dianggap menyusahkan masyarakat kelas bawah. Ia menilai, pemerintah perlu menghapus sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang selama ini diterapkan. Sebab, sistem itu justru menemui sejumlah tantangan seperti kecurangan, hingga manipulasi alamat. Akibatnya, calon murid yang seharusnya masuk ke sekolah sesuai zonasi malah terpental.

“Padahal, kalau anak-anak bisa sekolah dekat rumah, mereka cukup bersepeda atau jalan kaki. Tidak perlu menggunakan kendaraan yang dapat menghasilkan emisi gas buang menuju sekolah,” terangnya.

Bahkan, Nofel Saleh Hilabi berencana mengoptimalkan Balai Latihan Kerja (BLK) yang ada di Kota Bekasi dan Kota Depok agar bekerja sama dengan pelaku industri. Sehingga, peserta pelatihan bisa mendapatkan kurikulum dan fasilitas latihan sesuai kebutuhan pasar kerja.

Di lain sisi, Nofel Saleh Hilabi akan menyediakan insentif bagi para pelaku industri yang merekrut talenta lokal radius 5 kilometer dari lokasi usaha. Sebab, tak sedikit lulusan sarjana di kedua daerah tersebut yang sulit mendapatkan pekerja dan lagi-lagi harus ke Jakarta. “Kita harus berpikir jangka panjang dan holistik. Kita tidak bisa memecahkan masalah dengan cara yang sama dengan yang menciptakannya. Kita harus berinovasi dan berkolaborasi,” jelasnya.

Dalam dunia kesehatan, Nofel Saleh Hilabi ingin peserta BPJS Kesehatan maupun bukan mendapatkan pelayanan yang sama. Mengingat, kerap kali rumah sakit mengkotak-kotakan pasian berdasarkan jaminan kesehatan. “Saya tidak ingin ada perbedaan kualitas fasilitas perawatan dan obat antara orang berduit dan tidak berduit,” katanya memungkasi obrolan.