FEM Indonesia, Jakarta — Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) berkolaborasi dengan para seniman dari Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI), Himpunan Pelukis Jakarta (Hipta), dan Asosiasi Pelukis Nusantara (Aspen) menyelenggarakan Seminar Nasional dan Pameran Lukisan bertajuk “Revitalisasi Keraton Nusantara”.

Kegiatan ini diselenggarakan di Gedung Kantor Pusat Berita Antara, Jakarta Pusat. Pembukaan seminar nasional dan pameran lukisan dilaksanakan pada Jumat (24/4/2026) dan pameran lukisan akam berlangsung pada 24-28 April. Acara akan dibuka resmi oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Menteri Ekonomi Kreatif sekaligus Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya.

Ketua Umum FSKN, Brigjen Pol (P) AA Mapparessa mengatakan, acara ini merupakan wujud komitmen bersama untuk melestarikan warisan leluhur yang menjadi pilar identitas bangsa. “Melalui dialog dan ekspresi seni, kita ingin merumuskan langkah konkret agar keraton-keraton di Nusantara tetap hidup, relevan, dan menjadi sumber inspirasi bagi generasi masa depan,” tutur Mapparessa.

Ia menegaskan bahwa revitalisasi keraton bukan hanya soal memugar bangunan fisik. Namun, menghidupkan kembali nilai-nilai luhur kearifan lokal, toleransi, dan kebersamaan yang menjadi fondasi kuat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ketua Panitia Pelaksana Seminar Nasional dan Pameran Lukisan FSKN Dedi Yusmen menuturkan, kegiatan ini merupakan kolaborasi strategis antara penjaga tradisi dan insan seni untuk merumuskan konsep dan langkah konkret dalam pelestarian serta pengembangan nilai-nilai budaya bangsa. Acara ini dikemas melalui dialog kebijakan dan ekspresi karya seni rupa.

Sekretaris Jenderal Hipta, Semut Prasidha, melihat kegiatan ini merupakan momentum strategis yang melibatkan 44 pelukis sebagai dukungan bagi FSKN dalam memperjuangkan revitalisasi keraton-keraton di Nusantara. “Hal ini merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah bangsa Indonesia sekaligus sebagai cagar budaya yang layak dilestarikan sepanjang NKRI eksis dan terus diakui dalam tatanan peradaban dunia,” kata Semut.

Menurut Ketua Umum Aspen, Kembang Sepatu, seni rupa selalu menjadi medium yang kuat untuk merekam, merawat, sekaligus menafsirkan kembali identitas budaya. Dalam konteks Indonesia yang kaya warisan tradisi, keraton bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol peradaban, pusat nilai, dan jejak sejarah yang hidup. Pameran lukisan menghadirkan kolaborasi harmonis yang tidak hanya menyatukan gaya visual. Namun, menyatukan pula visi pentingnya menghidupkan kembali makna keraton di era kontemporer,” ujarnya.

Tema revitalisasi menjadi titik temu gagasan. Para perupa tidak hanya merepresentasikan keraton sebagai objek visual, tetapi juga entitas yang perlu dihidupkan kembali dalam kesadaran masyarakat. Revitalisasi bisa dimaknai secara luas seperti pelestarian nilai-nilai luhur, reinterpretasi simbol budaya, hingga kritik terhadap kondisi keraton yang mulai terpinggirkan oleh modernitas.

“Lukisan-lukisan yang ditampilkan menjadi refleksi sekaligus ajakan untuk melihat keraton bukan sebagai peninggalan masa lalu semata, tetapi sumber inspirasi masa depan,” kata Kembang Sepatu.

Sebanyak 44 seniman yang terlibat dalam pameran ini, di antaranya Yahya TS, Deden Hamdani, Susi Necklin, Pustanto, Yogi Wistyo, Glen Nender, Cheyanne Smith, D.Koestrita, Chryshnanda Dwilaksana, Mas Wit, Ni Made Sri Andani, dan Sarnadi Adam. Selain itu, ada ⁠Dudin Wangsa, Shamady Nura, Helena Muljanto, Aryo Bimo, Yunti Ars, dan Nadia Iskandar.

Pameran ini bukan sekadar peristiwa artistik. Namun, gerakan kultural bersama untuk memastikan bahwa keraton Nusantara tetap hidup. Keraton tidak hanya sebagai warisan sejarah, tetapi juga inspirasi yang terus berkembang dalam kehidupan modern.