FEM Indonesia, Jakarta — Setelah mencuri perhatian publik internasional lewat pemutaran perdananya di ajang Berlin International Film Festival, film terbaru produksi Come and See Pictures berjudul Ghost in the Cell akhirnya merilis official trailer.
Film ini menjadi karya ke-12 dari penulis dan sutradara Joko Anwar yang kali ini memadukan horor supranatural dengan komedi satir bertema sosial-politik Indonesia.
Trailer yang dirilis menampilkan atmosfer mencekam di dalam penjara, ketika para narapidana dalam ruang terbatas diteror kekacauan misterius. Namun, di balik kengerian tersebut, terselip satire tajam tentang dinamika kekuasaan dan kondisi sosial masyarakat Indonesia saat ini.
Miniatur Kehidupan Sosial-Politik
Joko Anwar mengungkapkan bahwa latar penjara dalam film ini merupakan metafora dari kehidupan rakyat.
“Penjara adalah cerminan hidup secara sosial dan politik. Ada pejabat lapas sebagai pemerintah, dan ada napi sebagai rakyat. Ada dinamika kuasa, dan dinamika antar napi yang mencerminkan masyarakat kita,” ujar Joko Anwar.
“Film ini didesain buat penonton tertawa lepas karena ngeliat kehidupan kita sendiri,” tambahnya.
Pendekatan yang digunakan pun berbeda dari film-film horor kebanyakan. Ghost in the Cell dikemas dengan gaya visual dan audio yang imersif, memadukan ketegangan horor dengan humor satir yang relevan.
Produksi Efisien dengan Konsep One Shot
Produser Tia Hasibuan menjelaskan bahwa film ini diproduksi secara efektif dan efisien. Proses syuting hanya berlangsung selama 22 hari, dengan durasi pengambilan gambar setengah hari setiap harinya.
“Kami mengambil gambar dari pagi dan berakhir saat jam makan siang. Jadi meskipun waktu produksi 22 hari, itu terasa seperti 11 hari waktu produksi. Kami juga menggunakan pendekatan hampir seluruhnya one shot take, sehingga sejak pra-produksi sudah dipersiapkan secara matang,” jelas Tia.
Film ini dirancang layaknya pertunjukan teater, dengan total hanya 43 adegan—jauh lebih sedikit dibandingkan rata-rata film yang biasanya memiliki sekitar 120 adegan. Setiap adegan berdurasi panjang, menuntut konsistensi performa dari para aktor.
Ansambel Aktor Terbaik Indonesia
Film ini dibintangi deretan aktor papan atas, antara lain: Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Danang Suryonegoro, Endy Arfian,
Lukman Sardi, Morgan Oey, Rio Dewanto, Tora Sudiro, Arswendy Bening Swara dan Aming. Serta memperkenalkan pendatang baru Magistus Miftah.
Abimana Aryasatya, yang memerankan karakter Anggoro sekaligus menjadi pemeran utama, menyebut film ini sebagai refleksi nyata atas kondisi bangsa.
“Meski latarnya adalah penjara dan para karakternya adalah para napi, bagi saya ini seperti gambaran yang jelas tentang situasi kekacauan yang terjadi di Indonesia sekarang. Justru dari para napi ini kita juga bisa belajar semangat kolektivisme untuk melakukan sebuah tindakan, saat kita tidak bisa bergantung pada institusi resmi,” ujar Abimana.
Siap Rilis Global
Ghost in the Cell diproduksi oleh Come and See Pictures bekerja sama dengan RAPI Films dan Legacy Pictures. Sementara untuk distribusi internasional, film ini menggandeng Barunson E&A sebagai sales agent worldwide.
Dengan perpaduan horor, komedi satir, serta kritik sosial yang tajam, Ghost in the Cell digadang-gadang menjadi salah satu film Indonesia paling menghibur sekaligus reflektif tahun ini.


Tinggalkan Balasan