FEM Indonesia, JAKARTA – Di tengah kehidupan yang semakin penuh tekanan, ketidakpastian, dan perpecahan, film Tanah Runtuh hadir membawa pesan sederhana namun mendalam: melihat dunia dengan lebih tenang dan penuh cinta.
Melalui karakter Ringgo, seorang anak dengan Down Syndrome yang diperankan oleh Ridho Khaliq, film ini menawarkan perspektif yang hangat tentang keluarga, kasih sayang, dan kepedulian. Kehadiran Ringgo tidak hanya menjadi representasi yang jarang ditampilkan dalam perfilman Indonesia, tetapi juga menjadi pengingat bahwa manusia masih memiliki kemampuan untuk saling mencintai dan menjaga satu sama lain.
Disutradarai oleh Rudi Soedjarwo dan diproduseri oleh Denny Siregar, Tanah Runtuh mengisahkan perjalanan Kai dan Ringgo yang terpisah dari sang ibu setelah sebuah peristiwa besar mengubah hidup mereka. Namun lebih dari sekadar kisah pencarian, film ini menjadi refleksi tentang bagaimana cinta tetap dapat bertahan ketika dunia terasa runtuh.
Menurut Rudi Soedjarwo, kekuatan utama film ini bukan terletak pada peristiwa besarnya, melainkan pada hubungan antarmanusia yang saling menopang di tengah kesulitan.
“Ketika dunia terasa runtuh, yang sering menyelamatkan kita justru bukan hal-hal besar, tetapi orang-orang yang memilih untuk tetap tinggal dan peduli. Melalui Ringgo, saya merasa film ini memiliki hati yang sangat kuat,” ujarnya.
Sementara itu, Denny Siregar menegaskan bahwa sejak awal film ini memang dirancang untuk berbicara tentang cinta yang tetap hidup di tengah situasi paling sulit.
“Hari ini kita hidup di masa ketika banyak orang merasa marah, takut, dan lelah. Lewat Ringgo, kita diingatkan bahwa manusia bisa saling mencintai tanpa syarat dan saling menjaga tanpa melihat perbedaan,” kata Denny.
Karakter Ringgo, lanjutnya, tidak pernah dimaksudkan sebagai simbol inspirasi atau objek belas kasihan. Sebaliknya, ia menjadi pusat perjalanan emosional film sekaligus jembatan bagi penonton untuk memandang hidup dengan lebih jujur dan tulus.
Hal serupa dirasakan oleh Vino G. Bastian yang memerankan Idham. Baginya, hubungan yang terjalin antara Kai dan Ringgo menjadi inti dari keseluruhan cerita.
“Yang paling menyentuh bukan konflik atau kekacauan yang terjadi di sekitar mereka, melainkan cara Ringgo melihat dunia dengan begitu tenang. Ada kejujuran, cinta, dan ketulusan yang mungkin mulai jarang kita temukan dalam kehidupan orang dewasa hari ini,” ungkap Vino.
Sebagai seorang ayah, Vino juga merasa perjalanan kedua anak tersebut memiliki kedekatan emosional yang kuat.
“Melalui Ringgo, saya diingatkan bahwa yang paling penting bukan menjadi yang paling kuat, melainkan tetap memiliki hati untuk peduli pada orang lain,” tambahnya.
Berbeda dari banyak representasi serupa di layar lebar, Tanah Runtuh memberikan ruang bagi Ringgo untuk tampil sebagai manusia yang utuh, dengan rasa takut, harapan, dan kasih sayangnya sendiri. Melalui sosoknya, film ini mengajak penonton melihat bahwa bahkan ketika tanah di bawah kaki terasa runtuh, masih ada satu hal yang tidak bisa dihancurkan: kemampuan manusia untuk mencintai.
Selain Vino G. Bastian dan Ridho Khaliq, film ini juga dibintangi oleh Sigi Wimala, Jenda Munthe, dan Tike Priatnakusumah.
Tanah Runtuh dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 25 Juni 2026.


Tinggalkan Balasan