FEM Indonesia, Jakarta — Rumah produksi Trois Films resmi merilis teaser trailer film thriller psikologis berjudul Lift, menyusul peluncuran poster perdananya beberapa waktu lalu. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 26 Februari 2026.
Teaser berdurasi satu menit tersebut menjadi pengantar awal menuju sebuah pengalaman sinematik yang intens, brutal, dan menekan. Keunikan Lift terletak pada pilihan latarnya—sebagian besar teror berlangsung di ruang yang sangat familiar bagi penonton, yakni sebuah lift, yang perlahan berubah menjadi arena permainan hidup dan mati.
Sejak adegan pembuka, teaser Lift langsung menebarkan atmosfer gelap dan mengancam. Potongan ekspresi dingin serta gestur khas Shareefa Danish sebagai antagonis tampil efektif membangun rasa tidak aman. Lift yang tertutup, sempit, dan tanpa jalan keluar menjadi simbol ketakutan yang perlahan menggerogoti psikologis para karakter.
Pertanyaan pun dibiarkan menggantung: apa yang sebenarnya terjadi di dalam lift tersebut? Dan mengapa ruang itu menjadi pusat teror yang menghancurkan para tokohnya?
Tak hanya mengandalkan ketegangan psikologis, teaser Lift juga menegaskan keberaniannya secara visual. Percikan darah, noda kekerasan, dan fragmen kekacauan ditampilkan singkat namun tajam, menandakan bahwa film ini tidak setengah-setengah dalam mengeksplorasi wilayah ekstrem—baik secara emosional maupun visual.
Kesan mencekam tersebut sejalan dengan penilaian kritikus internasional Darwin Reina dari Rodartin.com, yang menyebut Lift sebagai, “A film that keeps you guessing, clutching your seat, and questioning your own instincts.”
Daya tarik film ini semakin kuat dengan keterlibatan Ario Sagantoro sebagai produser. Nama Ario dikenal luas lewat film-film berpengaruh seperti Merantau, The Raid, dan The Raid 2, yang sukses mengangkat perfilman Indonesia ke panggung dunia.
Bagi Ario, Lift menjadi proyek yang memiliki makna personal.
“Setiap proyek yang saya pilih selalu berangkat dari satu pertanyaan: apakah film ini menawarkan pengalaman yang benar-benar berbeda bagi penonton? Lift punya itu. Bukan hanya dari skala aksinya, tapi dari intensitasnya,” ujar Ario.
Ia menambahkan, pengalaman memproduseri film-film laga sebelumnya membentuk disiplin dalam menjaga ketegangan.
“Di Lift, tensi itu kami arahkan ke wilayah yang lebih psikologis. Lebih dekat, lebih menekan, dan terasa personal.”
Lift juga menjadi debut penyutradaraan Randy Chans. Film ini mengisahkan teror yang kembali menghantui PT Jamsa Land enam tahun setelah kecelakaan lift kantor yang menewaskan banyak orang. Linda (diperankan Ismi Melinda), staf humas perusahaan, terjebak di dalam lift bersama sebuah suara misterius yang mengancamnya melalui interkom. Ketika anaknya disandera, Linda dipaksa mengikuti serangkaian permainan berbahaya yang perlahan membuka rahasia kelam tragedi masa lalu.
Sekitar 70 persen cerita film berlangsung di dalam lift, menjadikannya latar utama sekaligus pusat konflik.
“Di Lift, kami ingin penonton merasa ikut terjebak,” kata Ario.
“Bukan sekadar menyuguhkan kekerasan, tetapi menghadirkan pengalaman panik di ruang sempit, ketika napas semakin pendek dan pilihan semakin sedikit. Ini film yang sengaja dirancang untuk membuat penonton tidak nyaman dari awal hingga akhir.”
Sebelum tayang luas di Indonesia, Lift telah lebih dulu mencuri perhatian di kancah internasional. Film ini terpilih sebagai Official Selection Dubai City Film Festival 2025 dan meraih empat nominasi, termasuk Best Feature Film, dalam ajang Los Angeles Fantasy Fest 2025, menandai tingginya antusiasme festival internasional terhadap eksekusi thriller psikologis yang ditawarkan film ini.
Dengan konsep ruang terbatas, teror psikologis yang intens, serta dukungan nama besar di balik produksinya, Lift digadang-gadang menjadi salah satu film thriller Indonesia paling dinanti pada 2026.


Tinggalkan Balasan